Terlambat Bahagia

Tadi sore, aku mengingat-ingat, kira-kira ada berapa kali dalam hidup ini - hingga sekian puluh tahun usia berbilang ini- aku mengalami hari-hari yang penat dan menggrogoti semangat yang  harusnya kokoh menjulang.

Rupanya, kawan, hampir dalam setiap perguliran malam menelan siang dan berulang lagi siang muncul menggeser gulita, aku mengalami ribu-ribu macam masalah.

Ternyata, baru sore tadi juga aku sadar dan berhasil memetakan sebuah ihwal maha penting dalam perjalanan hidupku, bahwa masalah terbesar kita hingga hari ini sepertinya adalah kita terlambat bahagia.

Harta kita tak semelimpah mereka, maka kita tidak bahagia.Dulu pas kecil tidak juara, kita tidak juga bahagia. Kurang kawan, kita tidak bahagia. Banyak kawan banyak konflik, tak kunjung juga kita bahagia. Waktu kuliah hampir-hampir mati kita putus asa mengerja setiap kewajiban yang merantai melilit-lilit, selesai kuliah hampir mati lagi kita dibuat kerja yang rutin berulang ulang ulang ulang, ini dejavu… kata kita.

Rupanya, kawan, itulah masalah kita, ketololan kita yang berkarat-karat itu menutupi hati kita sampai-sampai tidak lagi percaya janji pagi yang pasti datang setelah pekat malam. Sampai lupa kita, pontang-pantingnya Bapak Ibu kita membesarkan kita sampai sebegininya, itu bukti lebih dari nyata bahwa mereka bisa menghadapi aral macam apa juga, maka kita haruslah juga bisa. Sampai lupa kita bahwa besok, lusa, besoknya lagi dan tahun-tahun di depan kita itu, pasti ada saja masa-masa mengiris, yang sunyi hening menohok, menggrogoti semangat kita yang nyata-nyata sudah renta sebelum masanya.

Jadi ingat kata orang-orang tua dulu, bahwa siapa saja yang mencoba mencari kebahagiaan dari luar dirinya, akan selalu mendapati kebahagiaan itu milik orang lain.

Kalau sekarang, esok, lusa dan berapapun dasawarsa didepan sana masalah akan masih juga ada, jadi kapan kita bahagia??

Janganlah kita terlambat lebih lama kawan!!!

Setelah tersadar tadi sore, maka aku beristighfar dalam, dan memulai bahagia.

sebentuk cinta buat para guru

Dari kecil, bapak sudah menanamkan dengan sangat, biar kami-kami ini, anaknya, tidak pernah merasa puas untuk belajar hanya dari satu orang guru, dari satu bentuk saja pemahaman, dari satu warna saja pola pikir.

Terlalu luas dunia ini, dan terlalu kecil tempurung otak kita, apatah lagi jika kita batasi diri untuk menerima bentuk kebenaran dari segala yang kita suka saja. Jangan!!!

Maka setiap hari aku belajar dengan jujur pada setiap orang, setiap buku, setiap kebijakan, setiap cerita-cerita, setiap apa saja. Kadang2 pembelajaran yang panjang itu membuatku merasa dekat dengan setiap “guru-guru” yang jauh.

Mereka itu banyak sekali berbuat, dan banyak nian mengajarkan kebijakan. Yakin benar aku, bahwa tidak sekalipun orang-orang itu pernah merasa mengajari seorang yang terlampau biasa ini, yang mereka tidak mungkin juga pernah tebak bahwa setiap penggal kata-kata mereka itu jadi pelita yang mewarna ditengah jatuh terpuruknya aku dalam hari-hari yang pekat, misalnya.

Maka aku sering tercenung dan menangis, menangis untuk hal-hal yang biasa saja, untuk setiap kebijakan yang tiba-tiba timbul dari lontar kata ibu waktu menasehati untuk aku selalu semangat belajar misalnya.
untuk setiap kali aku melihat bapak menatap awang2 langit malam lalu menghela nafas dengan berat misalnya.
untuk setiap kali aku tercenung setelah membaca buku yang kubeli di sudut gramedia itu misalnya.
untuk kelakar supir taxi yang menceritakan uang harian yang dia irit-irit untuk istrinya itu, misalnya.
untuk setiap semua yang biasa.

Lalu kusempatkan berdoa sejenak, untuk semua yang kebijakannya sudah kupulung karna menguntit mereka dari jauh itu, semoga tetes keringat, tiap jejak langkah, tiap kata yang keluar, juga tiap hela nafas berat mereka itu dibalas dengan sebaik-baiknya, diganda-gandakan hitungannya, lalu dibuatkan untuk mereka sebuah istana kecil di firdaus sana, semoga dipajang di pintu depannya

persembahan doa dari murid tak bernama

“sebentuk cinta buat para guru”

mimpi

Sudah sangat lama, aku menjalani hidup seperti orang yang tidak punya mimpi, padahal kata orang-orang, mimpi adalah sesuatu yang membuat hari-hari kita hidup dan bermakna. Jika kita punya mimpi, maka kita akan mengejar mimpi itu sampai ketempat-tempat yang musykil sekalipun, dan akan banyak kejadian yang mendebarkan sepanjang petualangan kita menggapainya.

Itulah masalahnya, selama ini hidupku mengalir sebagaimana alir sungai, aku mengikuti saja alurnya, kulakukan apa-apa saja seperti yang kebanyakan orang lakukan saat mereka menginjak fase yang sama denganku. Orang kuliah, ya aku kuliah, orang lulus ya aku lulus, orang kerja ya aku kerja….. jujur, sumpah mati begitu. Terlihat sangat tidak membara dan kurang greget, tapi ya bagaimana lagi, begitulah adanya.

Sampai suatu ketika, dalam suatu hari, dalam perjalanan panjang hidupku yang mengalir sampai sekarang itu, aku tiba-tiba tersentak oleh sebuah kesadaran yang menyeruak tiba-tiba, tanpa katalis macam apa, tanpa alasan apa-apa, aku sadar, bahwa sebuah cinta maha indah telah menuntunku dengan sangat rapih, untuk mengalir pelan dan sampai ke muara.

Segala bentuk syukur bentuk puji kuucap sayup dan lantang, untuk “keajaiban” yang mempertemukan aku dengan kawan-kawan yang membagikan semangat dan mimpinya, hingga jadilah aku, sampai saat ini adalah orang yang hidup dan tumbuh besar atas cipratan mimpi-mimpi mereka.

Sewaktu SMA, alhamdulillah, Tuhan izinkan untuk aku belajar diantara teman-teman yang aku tahu betul kapasitas intelektual mereka itu mencuat-cuat tak dapat dibendung, jadilah aku ikut-ikut juga belajar sampai terengah-engah untuk sedikit saja berupaya mengikuti ritme orkestra mereka yang luar biasa cepat itu. Mereka lulus, aku lulus, mereka kuliah aku kuliah.

Waktu kuliahpun begitu, silih berganti Tuhan pertemukan aku dengan semua orang yang berapi-api semangatnya, yang tak kurang-kurang perjuangannya, yang mimpi-mimpinya itu mereka gantung di langit yang paling ujung, menggantungnya saja sudah membuktikan mereka layak mencapainya.

Selalu begitu, mereka bermimpi, lalu berjuang sampai putih tulang mereka itu terlihat, lalu berjalan terus sampai keringatnya itu bersimbah tak karu-karuan, kukejar mereka sekencang-kencangnya, mereka lulus aku lulus, mereka bekerja aku bekerja.

Sudah sangat lama, aku menjalani hidup seperti orang yang tidak punya mimpi, padahal kata orang-orang, mimpi adalah sesuatu yang membuat hari-hari kita hidup dan bermakna, jika kita punya mimpi, maka kita akan mengejar mimpi itu sampai ketempat-tempat yang musykil sekalipun, dan akan banyak kejadian yang mendebarkan sepanjang petualangan kita menggapainya.

Maka itu, hari ini aku sudah memutuskan untuk berani bermimpi, anggaplah ini sebagai sujud syukur yang khidmat, atas segala karunia yang berhamburan menghujaniku dari puluhan tahun lalu, atas segala cerita kehidupan yang tersulut dan membara berkobar-kobar oleh nyala mimpi semua orang luar biasa itu.

Akan kubangun sebuah rumah mungil, dipuncak bukit menghadap lembah yang kabutnya melayang-layang tipis itu, lalu meskipun sedikit telat nantinya akan kuucapkan juga sebuah janji dengan kata yang paling sungguh, kan kupesankan anak cucu kitananti untuk menjelma pribadi yang punya mimpi, yang baik, yang mulia.

Mereka bermimpi………

Kita bermimpi………

*) images taken from google

dari jalan yang naik dan yang turun

Tuhan hadirkan banyak hikmah dalam setiap hari yang kita lewati.

Pertemuan yang menyenangkan dengan banyak teman, orang-orang baik yang membangkitkan semangat, yang banyak sekali hal bisa kita tiru dari mereka-mereka. Atau kejadian kejadian yang menghibur dan mewarna halaman-halaman sejarah kita. Atau penghargaan yang membubungkan kita ke angkasa yang bertingkat-tingkat itu.

Menarik benar, menyadari betapa Tuhan dengan sangat bijaksananya mempergulirkan malam setelah siang benderang kita, mempersempit ruang setelah lapang kita, menelusupkan lelah setelah kuat menggelegarnya kita, mensenyapkan sunyi setelah hiruk pikuk kita.

Hari-hari selalu dibimbingnya dengan maha indah untuk mengajarkan kita arti tunduk dalam, arti syukur yang lapang, yang ikhlas, yang menerima benar atas segala naik turunnya cerita-cerita kita.

Kita ini sudah terlampau sering menangis dan ciut, bersembunyi dibalik rerimbun belukar, kita kutuk-kutuk gelap hari padahal Tuhan bimbing kita untuk jelma kesatria.

Banyak nian kita meratap-ratap nasib, kita iba-iba diri yang terseok-seok, padahal Tuhan tempa kita untuk sekeras karang sekeras baja.

Kita tanam susah duka dalam-dalam, padahal Tuhan bimbing kita untuk syukur.

Kemana lagi kita lari bersembunyi jika malam itu niscaya jika pagi itu niscaya?

Tuhan….
Syukurkan hati kami untuk setiap yang benderang.
Kuatkan hati kami untuk setiap yang gulita.
Ajarkan kami untuk percaya benar bahwa Engkau memandang kami dengan senyum, bangkitkan Jiwa kami yang ciut merangkak-rangkak ini.
Keluarkan kami dari sembunyi panjang ini.
Yakinkan kami akan setiap janji pagi yang mengintai dibalik pekat malam.
Cukupkan kami untuk memohon-mohon padaMu, ajarkan kami untuk berdiri tegak disetiap terjang topan badai.
Lalu lembutkan hati kami untuk selalu sujud menapak tanah serendah-rendah.

Telusupkan ketenangan ke dalam-dalam sumsum belulang kami ini, untuk berdiri dan mengamini doa kami tadi.

warisan

Aku sudah bisa membaca………..

Adalah Kakek, orang yang dengan sabar mengajarkan aku mengenal huruf demi huruf, membunyikan konsonan dan vokal, merangkai kata dan kalimat, terus begitu hingga kakek meninggal saat aku kelas 3 SD.

Tidak banyak warisan yang kakek tinggalkan, aku tidak ingat lagi dimana-mana saja barang-barang peninggalan beliau, satu-satunya benda yang aku tahu adalah sebuah buku tua.

Buku dengan ejaan melayu lama itu menjadi barang bersejarah buatku, itu adalah sebuah buku tanya jawab agama, bukan buku luar biasa.

Aku terus membaca buku itu lembar demi lembar, bahasan demi bahasan. Sampai aku sangat yakin, jika suatu ketika seseorang bertanya padaku, buku apa yang paling berpengaruh bagi kehidupanku, aku akan menjawab lantang dan cepat “buku tanya jawab agama, buku kuno warisan kakekku”.

Lembar-lembar buku tua itu mengajariku bagaimana menganalisa suatu masalah, bagaimana membandingkan banyak ragam pendapat, bagaimana memahami kenapa para bijak cendikia itu menghukumi suatu masalah dengan begini dengan begitu, akhirnya buku itu mengajariku bagaimana berpendirian ditengah gelombang perbedaan penafsiran banyak kepala manusia.

Tak putus-putus aku memikirkan betapa warisan itu telah mempengaruhi sepanjang ini perjalanan hidupku.

Jika suatu nanti aku telah menjadi kakek-kakek, akan aku ingat betul untuk meninggalkan sebuah buku berharga untuk anak cucuku nanti, tapi sebelum itu aku akan mengajarinya mengenal huruf dan angka, mengeja kata dan kata.

Jika cucu kita sudah bisa membaca sejak masih belia, dan dilahapnya pula buku tua peninggalan kita kata demi kata, maka semoga pahalanya mengalir deras sampai ke langit dan ujung-ujungnya, menerangi tempat pembaringan kita dengan temaram yang indah tak alang kepalang.

masih saja…….

Sampai saat ini, dua kali aku melihat ibu menangis.
Pertama adalah waktu Bapak dipindah tugaskan ke Bengkulu, sebelumnya kami tinggal di sebuah tempat terpencil di pelosok, kabupaten di pinggiran bengkulu. Sebenarnya pindah ke kota semestinya jadi sebuah berita gembira, tapi tidak untuk pasangan baru yang sedang menanti hasil panen palawija yang ditanam dengan perjuangan setengah mati, setiap hari membersihkan padang rumput ilalang yang menutupi hektar tanah hutan rimba, membabat pohon2 tinggi besar, menanam, menyiram, dan segala sesuatunya sendiri, hingga tiba waktunya menunggu panen kami sekeluarga dipindahkan. Harus!!! tak ada ulur-uluran waktu.

Singkat kata kami berkemas, waktu itu ibu belum menangis. Seingatku Bapak dan Ibu itu sangatlah kekurangan dalam banyak hal, uang ditangan sudah habis untuk modal berkebun, panen masih menunggu minggu sedang perintah pindah sudah di depan mata, lantas apa modal untuk pindah?
Dengan luar biasa berat, mas kawin Ibu -tanda cinta mereka berdua itu- dijual, disitulah aku pertama kali melihat ibu menangis.

Kali kedua aku melihat ibu menangis adalah setiba kami di bengkulu.
Kami mengontrak sebuah rumah kecil, sebegitu kecilnya hingga pintu depan dan pintu belakang rumah hanya dipisahkan berapa langkah kaki saja. Tapi hidup harus terus berjalan. Perlahan kami merasa betah, tahun bergulir dan berganti cerita, rumah kontrakan ternyata dijual oleh empunya tanpa pemberitahuan. Sang pemilik baru, berniat membangun kembali rumah yang sedang kami kontrak, tanpa banyak basa-basi segala material bahan bangunan ditumpuk di depan rumah, pagar2 dicabut, apa yang bisa dibongkar dibongkar, sungguh tak sopan, padahal sungguh kami masih ada disana dan masih berhak disana, kami merasa diusir dan dilecehkan. Dan itulah kali kedua aku melihat ibu menangis.

Kami pindah lagi untuk kedua kalinya, kalau kepindahan pertama adalah kepedihan karna harus meninggalkan semua usaha yang telah berbulan-bulan dikerjakan, maka kepindahan kali ini adalah kepedihan karna merasa jadi orang terpinggirkan, nilai sebagai manusia sudah terhempas sampai titik yang serendah-rendahnya, Bapak marah luar biasa, tapi tak ada yang bisa dilakukan, kemarahan dan kesedihan yang mengendap itulah yang memacu Bapak untuk segera mendirikan rumah, rumah kami sendiri.

Tapi apa yang bisa dijadikan modal untuk membangun rumah? Kami keluarga yang sedang-sedang saja, dalam bulan-bulan tertentu kami bisa kekurangan, hampir tidak pernah lebih. Dengan modal nekat bapak membangun rumah, membangun fondasi sendiri, mengangkat batu2 kali sendiri, menegakkan tiap butir bata sendiri, merangkai tiap besi sendiri, merakit jendela dan pintu sendiri, menggali sumur sendiri.
Setiap bulan Bapak dan Ibu menghemat uang untuk membeli semen dan pasir barang satu sak barang setengah gerobak, lalu menempelkannya di sudut rumah, dipinggir pintu, dimana-mana saja yang dapat ditempel.

Itulah rumah kami, kebanggaan bahwa kami sekarang sudah berdiri diatas kaki kami sendiri benar-benar menyulut, maka kami begitu riang ketika tinggal di rumah yang berlantai tanah, berlampu teplok, jendela dari kayu yang dipaku-paku tak karuan, dinding bata merah, dan atap yang tak berpelapon. Setiap hari kami berkumpul di ruang tengah, bercerita banyak hal, kami kerubungi lampu teplok kecil itu seperti anak ayam yang mengerubungi induknya. Tapi ingat teman, kami bahagia.

Perlahan kehidupan seperti roda pedati yang berputar, fase susah payah itu nyata-nyata dengan susah payah kami bisa tempuh, ekonomi membaik, rumah semakin layak huni, lampu teplok kami berganti neon yang menyala terang, lalu kami berkumpul di teras rumah, mendengarkan cerita Bapak yang mendongeng seperti dalang.

“itulah nak, Bapak ceritakan ini semua bukan untuk kita larut dalam romantisme duka, tapi semata buat kita berkaca, bila suatu ketika nanti kita jaya, ingatlah setiap jenak duka cita yang dulu pernah kita lewati sama-sama. maka bersyukurlah!!”

********

Tiba-tiba aku merasa benar2 kecil dan congkak, sedemikian banyak nikmat yang menghujani kita bersambung sambung sedang kita masih saja susah bersyukur, masih saja………….

delapan belas tahun

Delapan belas tahun, sejak Bapak memutuskan untuk membangun rumah sendiri, dengan tangan sendiri, keringat sendiri, menegakkan bata demi bata, mengangkat berkarung karung semen, merangkai kayu mengayu, dan mengatapi jengkal demi jengkal pucuk rumah.
Delapan belas tahun itu juga kami tempati rumah sederhana itu dengan segala suka segala dukanya, rumah itu sudah cukup setia menemani aku tumbuh besar dan berkembang dewasa untuk berani bercita-cita sejauh-jauh mata bisa menerawang.

Hanya satu kekurangannya, rumah itu, bagian depannya tidak memiliki teras.

Pembangunan rumah terpaksa dibekukan, hibernasi yang panjang, aliran rezeki berpindah alur dari rumah menuju kampus di pinggir jalan lintas bandung sumedang, kampus tempat aku belajar banyak hal, tempat dimana Bapak dan Ibu mengajarkan padaku bahwa orangtua adalah penjaga tangguh luar biasa, yang tidak sekalipun membiarkan mimpi2 kita itu untuk runtuh atau doyong, seberapapun harga yang harus ditebusnya.

Setelah delapan belas tahun yang panjang, barulah aku memiliki kemampuan untuk meneruskan kerja berat Bapak dan ibu dulu, membangunkan rumah kecil itu dari tidur panjangnya, dan menambahkan sebuah teras mungil menghadap ke barat, menghadiahkan mereka waktu-waktu berharga untuk berselonjor menikmati semburat ufuk merah tembaga.

********

Suatu malam yang tenang, Bapak, ibu dan adik2ku berkumpul di teras mungil depan rumah lalu saling bercerita banyak hal.

Terlambat……
baru malam itu saja aku benar-benar sadar, bahwa hidup yang kita lakoni jungkir balik di dunia yang berputar cepat ini akan tidak berarti sebelum kita memberi arti. Bahwa harga kita sebagai manusia sama sekali tidak diukur dengan jumlah toga, rentet gelar dibelakang nama, saldo deposito kita, atau karya-karya besar mendunia.

Kita ini seperti terlampau cepat berlari, setengah mati kita pacu langkah tanpa tahu kemana kita menuju. Kita pergi bermil-mil jauhnya, kita sebrangi banyak selat banyak samudera, setengah mati kita mendaki setiap yang terjal lalu menuruni setiap yang melereng, kita mau kemana????

Payah kita membolak balik lembar buku-buku tebal, sekian guru tempat kita bertanya, sekian teman tempat kita berkeluh, masih juga kita tak terang kemana kita semestinya.

Delapan belas tahun baru bisa pelan-pelan aku mengeja, bahwa semakin banyak kebahagiaan bisa kita derma, maka semakin bahagia pula kita.

Lalu juga, pada suatu malam yang berhujan rintik, kutuliskan cerita ini dari pinggir rumah tua, untuk semua saudara yang mencari arti mencari bahagia, tolonglah…… jangan habiskan delapan belas tahun dengan sia-sia.

Padahal kebahagiaan kita itu semestinya terserak-serak di pinggir-pinggir rumah kita, bertumpuk-tumpuk sudah tak kita sentuh dari dulu-dulu sekali.

arti

Suatu hari aku membeli sebuah buku lama, kumpulan tulisan soekarno. Buku itu sudah dekil sekali, kertasnya menguning dimakan hari-hari, jilidannya sudah terlepas-lepas, tenaganya cuma cukup menghimpun lembar kertas-kertas tua itu beberapa puluh tahun saja.

Hampir mustahil, menemukan buku itu di toko buku manapun di pulau jawa ini, memang itu buku langka.

Sebenarnya aku sama sekali bukan penggemar pak karno, tapi buku-buku tua selalu menarik minatku, apalagi buku itu ditulis dengan bahasa sastra lama yang indah dan konteks sejarah yang zaman perjuangan itu seperti membakar, setiap kali aku membaca, aku merasa lebih muda lima tahun.

Dari dulu, aku selalu berusaha mencari-cari mutiara kebaikan yang bisa kita ambil dari sesiapa saja. Buku tua itu, dalam salah satu halamannya, memuat surat-surat pak karno kepada para sahabatnya. Apa yang menarik dari sebuah surat? yang membuat surat itu menjadi begitu bernyawa adalah karna surat itu ditulis oleh beliau dalam masa tahanan, dari balik jeruji besi, dari balik tembok yang hampir satu meter tebalnya, penjara yang memasung seerat-eratnya kebebasan fisik siapa saja yang dipendam didalamnya.

dari kesendirian yang pahit, dibalik terpa siksa yang memalu dan mencincang itu, orang-orang besar tidak pernah terpasung pemikirannya. Soekarno, Hamka, Bukhari, dan banyak lagi orang-orang besar itu membuat kita malu dan mengutuk-ngutuk kelemahan jiwa kita sendiri. Mereka, sekali-kali tidak pernah berhenti memberi arti!!

Aku menunduk dan setengah mati beristighfar. Bukankah hal terhebat yang sampai saat ini kita lakukan adalah menjadi orang biasa saja???

Lama aku menerawang, itulah mengapa buku-buku tua memberi sentakan yang berbeda, seperti menembus dimensi ruang dimensi waktu, lalu kita bertemu dengan para bijak para cendikia, lalu mengangkat muka dan kepala saja malu tak alang kepalang rasanya.

Rasa malu dan terbakar hebat seperti inilah yang membuat aku bertekad, dalam kesendirian macam apapun juga, dalam belenggu setebal sekeras apa juga, aku akan tetap “menulis” dan menyampaikan sesuatu.

Itulah penyulut banyak sekali email yang kukirimkan pada teman-teman disaat-saat senggang, sekedar berbagi cerita dan kebijakan, yang dengan tulus aku tak hiraukan pesan itu mereka baca atau simpan.

Itulah penyulut puluhan sms yang begitu seringnya kukirimkan untuk kawan-kawan di sebrang.

Itulah penyulut artikel-artikel kecil tentang banyak kebijaksanaan yang kupulung dari orang-orang.

Itulah penyulut perbincangan senja hari di tepian pantai, menasehati dengan pelan kepada saudara-saudara kecilku, menyemangati dan menyadarkan mereka bahwa sekali saja kita berhenti memberi arti maka kita sama saja mati.

Jikalah kapasitas orang macam kita ini tidak bisa se-menyengat surya untuk mengobarkan gelora banyak jiwa, maka cukuplah kita jadi perantara, mengajak teman dan saudara untuk sama-sama memulung kebijakan dari banyak manusia.

Sebelum waktunya kita nanti pergi, setidaknya biar berarti walau cuma sekali.

tak luar biasa tak apa

what will you do, if your best isnt good enough?

Aku sering sekali terhenyak waktu tersadar bahwa sebegitu banyaknya apa-apa yang sekuat tenaga kita lakukan ternyata tidak cukup bagus untuk dibilang luar biasa.
Kita berjuang mati-matian menggapai sesuatu, ternyata tidak tergapai.
Mati-matian juga kita mencegah sesuatu nyatanya tidak tercegah.

our best, sometimes isnt good enough.

Seperti konser musik, mati-matian kita memainkan sebuah simfoni, nyatanya orang tidak bertepuk tangan.

Kita sudah tegar memang, meski sedih itu mengalir sendiri bak peluh, tapi kita sudah tegar memang, kita sudah bertahan memang.

**************

Dulu sekali, pernah suatu ketika kita diajarkan dengan tenang, bahwa semakin ikhlas kita punya niat semakin enak kita berbuat, semakin benar kita berencana semakin mungkin kerja kita terlaksana sempurna. Semakin pasrah kita, semakin bisa kita menerima ending episode macam apa juga.

Lalu mulai kapan kita tiba-tiba lupa?
seketika ingat maka buru-buru kita harus berdoa, aminkan ini hai teman! “Tuhan…..bimbing kami pelan-pelan”.

biar khidmat kita bernyanyi, orang tak tepuk tangan, tak mengapa!
biar kuat kita mendaki, puncak belum juga sampai, tak apa!
biar dalam kita menyelam, dasar belum juga nampak, tak apa!

peluh hari-hari kita adalah untuk berbuat yang paling baik yang kita bisa, untuk jadi lebih baik tiap masanya.

meski “terbaik” kita tak cukup luar biasa, tak apa!!!!

pagi

Tuhan……..

Dalam sepi yang diam sehening-heningnya, kualirkan tangis yang lama penat menggumpal-gumpal dihati, telinga, mata dan kepala. Sungguh Tuhan, sepagi ini aku sudah berlari, mencari tempat untuk aku benamkan sujud ini dalam-dalam.

Payah aku menyibak kabut selagi hati ini masih temaram buram. Inilah kami duhai yang mengerti duhai yang maha, sepi ini menelusup ke ruas-ruas jari tangan kaki kami, hati ini terganjal tanya besar sekepala-kepala kami, tentang mengapa kami hidup jika suatu nanti kami mati? tentang seperti apa cerita hari depan kami nanti? tentang siapa gerangan pendamping jiwa penetram hati kami? susah aku berteriak sampai serak, wahai yang mendengar duhai yang maha.

Maka sepagi ini aku sudah berlari, mencari tempat untuk kubenamkan sujud ini dalam-dalam. Dalam sepi yang diam sehening-heningnya, kualirkan tangis yang lama penat menggumpal-gumpal dihati, telinga, mata dan kepala.

Next Page »