Archive for January, 2007

kebijakan yang tercecer

KEBIJAKAN YANG TERCECER

Old_manbestsmall

selalu menarik,
mendengar orang tua-orang tua kita dulu menyampaikan pesan lewat idiom2 indah yang tidak selamanya bisa kita pahami.

"jangan makan di depan pintu rumah" katanya, "nanti susah dapet jodoh"

ada yang bilang itu tahayul, ada yang bilang apa

tapi sebenarnya, logis saja, laki2 macam apa yang mau menikah dengan perempuan yang makan di depan pintu rumah??

"jangan jahit baju malam2"

wajar saja, dulu itu ga ada listrik, bahaya juga kalau main jarum malem2.

itu yang standar…….

ada lagi kesalahan akut pemahaman kita yang mengkristal jadi khurafat dan tahayul dari generasi ke generasi

"sunan bonang kemana-mana selalu membawa tongkat"
kata ayah saya, itu perlambang bahwa sunan bonang kemana-mana selalu membawa pegangan hidup.

"gatot kaca memiliki pusaka berlambang bintang di dadanya, yang biasa disebut jamus kalimasada"
itu metafora segar perlambang ksatria menghayati dua kalimat syahadat.

anak2 sekarang ada yang begitu lugunya mengamini semua kesalahan pemahaman itu, ada pula yang begitu heroik meluluhlantakkan semua perlambang2 bijak nasihat orang tua2 dulu.

saya menyebut semua ini dengan kebijakan yang tercecer
kita ternyata masih belum mampu memahami apa yang mereka sampaikan bahkan dari waktu kita belum lahir dulu

nb:
sewaktu saya jalan2 ke sebuah daerah di bengkulu (batu layang), ada aturan aneh penduduk desa di sana, "kalau hari sudah sore dilarang membeli minyak tanah, kalau kita membelipun tidak akan ada yang melayani, kecuali jika kita tahu kata sandi untuk membeli minyak tanah sore hari. Apa itu…….
beli air tanah!!"

ada yang tahu apa makna ini semua???

coba saja! pilihanmu jadi dua

menarik, kalau ingat pelajaran agama kelas 3 sma dulu

TAKDIR

apa manusia punya kuasa, atau tidak? atau dimana titiknya kita harus berhenti atau menghentikan langkah karena kita yakin takdir sudah memberi tanda silang di hamparan jalan kita?

filosofis betul agaknya?

tapi lucunya, ini yang sering terjadi dan kita alami, sadar atau ga sadar.

misalnya mengulang kalkulus yang dapet C, eh…dapet C lagi, itu takdir atau apa?

okelah…ada yang bodo amat, terus ngulang lagi.

Ada yang bilang udah dari sononya gw kalkulusnya cuma bisa C udahlah!

kapan kita harus bilang kita masih bisa, kapan kita harus bilang ini diluar kemapuan kita?

agaknya harus secara sadar dan jujur betul ke hati kita sendiri, misalnya bahwa kita ini bisanya ini, ga bisanya itu.

tapi guru agama saya dulu ngajarin buat jadi orang yang simpel saja.

"COBA SAJA!" katanya, "nanti pilihanmu jadi dua"

sesimpel itu juga, akhirnya saya putuskan ikut juga tes SCHLUMBERGER beberapa minggu lalu.

first stage……….lolos

second stage……….lolos

first interview………lolos

second interview…………loading……….

coba aja! dengan mencoba kita membuat pilihan hidup kita jadi dua, bisa lolos bisa tidak, bisa bagus bisa tidak.

sesimpel itu juga saya memaknai tes SCHLUMBERGER ini.

pilihan saya sekarang jadi dua

bisa lolos, bisa tidak.

yang tidak pernah mencoba?

gimana mau lolos?

nb: doain saya yah, lolos SCHLUMBERGER, kerja di luar negri…amin :-)