Archive for March, 2007

BEGINI CERITANYA

tadi saya bongkar-bongkar kamar, eh, ketemu arsip jaman dulu, waktu masih jadi penyair :-).

BEGINI CERITANYA

Beri aku sedikit saja waktu untuk berpikir,
pikirku pasti akan melayang tentang aku, kau, kita yang seringkali dibodohi ego masing-masing, tapi masih saja bilang
"menurut saya begini….begini….begini……"

Beri aku sedikit waktu untuk mendengar,
pasti yang terdengar suara aku, kau, kita sama-sama bernyanyi tentang prinsip, tentang kebenaran, tentang pandangan hidup, yang syairnya ditulis oleh ego masing-masing, dan bunyinya
"begini…begini….begini…."

Beri aku sedikit saja waktu untuk melihat,
pasti yang terlihat adalah aku, kau, kita sama-sama berakting jadi orang bijak, orang pintar, orang arif, dan sebagainya dan sebagainya, yang naskahnya
"begini….begini….begini…."

Coba kita luangkan sedikit saja waktu untuk merasa,
pasti yang terasa adalah rasa ego,
seperti rasa benar yang diaduk dengan rasa paling.
Mungkin aku, kau, kita, sama!

Aku hanya minta kau luangkan sedikit saja hatimu,
tapi toh buat apa???
Sebelum bicarapun aku sudah dibantah dan digurui
"begini….begini……begini…"

Lalu aku hanya diam,
sedang dihatiku dongkol dan berkata
"begini…begini….begini…"

HARI SUDAH MULAI SENJA

Sunset1280x1024





HARI SUDAH MULAI SENJA

hari sudah mulai senja, ternyata
dan aku baru sadar bahwa aku telah melewati pagi

kebijakan yang tercecer (2)

Img_0046_1

Kebijakan yang tercecer (2)

Foto di atas saya ambil sewaktu mengikuti eksplorasi batubara di daerah kalimantan.

waktu itu saya ditemani penduduk asli kalimantan timur yang berasal dari suku dayak dan kutai, sebagai penunjuk jalan.

setelah lelah berjalan di siang hari yang terik, saya meminta rombongan untuk berhenti sebentar, lalu makan siang dengan bekal yang sudah disiapkan.

selepas makan saya mengeluarkan biskuit dari tas ransel, saya ambil beberapa potong lalu saya tawarkan kepada mereka.

Seorang bapak yang menemani saya waktu itu menolak untuk memakan biskuit yang saya berikan, lalu saya bertanya

"kenapa pak? ga suka sama biskuitnya?"

dengan sangat kebapakan sekali beliau menjawab
"enggak pak, kalau teringat anak2 dirumah ga pernah makan kue macam ini, rasanya saya enggak tertelan, enggak usah pak"

beberapa detik saya tertegun, sebuah jawaban yang mengusik hati kecil saya, bayangkan, di tempat seterpencil ini ternyata ada manusia semulia ini.

"sudah pak, ambil semua biskuitnya, bagikan dengan keluarga bapak"

tiba2 saya merasa menciut……..keciiiiiil sekali

Img_0057

dari tatapan mata kami yang menerawang senja sore itu

Cape_bnget






dari tatapan mata kami yang menerawang senja sore itu
(untuk seorang sahabat)

Mentari makin beranjak menjauh dari tatapan mata kami yang menerawang senja sore itu. Angin sepoi sore itu lamat2 menyanyikan senandung penyambut malam. Jujur saja, mataku lebih “melihat kosong” daripada semburat kuning kemerahan di ufuk sana. Lalu aku membenarkan sedikit letak dudukku, menempatkan siku tanganku terkulai di atas lutut, sembari sejenak mencoba kembali merangkai pecahan2 kesadaranku.

Mulai tergambar.
Semburat awan merah itu jadi latar yang indah, bagi burung2 yang terbang pulang ke sarang. Sudah setengah jam lebih, kami termenung di atas loteng ini, memandangi senja yang beranjak tua menjadi malam.

Ini memang sudah jadi kebiasaan. Aku dan teman di sampingku ini, memang sudah sejak satu tahun yang lalu terbiasa ada di atas loteng ini. Loteng rumahnya. Biasanya menjelang malam. Atau mungkin saat hari sudah benar2 malam. Sekedar memandang langit sore, atau mungkin memandang rembulan, entah sabit, entah purnama.

Tapi lebih dari itu semua, sejak satu tahun lalu juga, kami sudah terbiasa, bercerita tentang kerasnya hidup yang kami lewati. Hari ini, atau mungkin kemarin, atau kemarinnya lagi.

Di atas loteng ini. Di rumahnya. Entah menjelang malam, atau mungkin saat hari sudah benar2 malam.

seperti kepompong

Butterfly_cartoon_4



Seperti Kepompong

"Seperti kepompong,kita tidak tahu bahwa suatu nanti kita akan menjadi kupu-kupu, yang kita tahu hanyalah bahwa kita sendiri, dalam gelap, dan semuanya menakutkan"

Rasanya baru kemarin, saya meraut pensil 2B, mempertaruhkan nasib lembar-lembar hidup saya kedepan dengan mbulet-mbuletin LJK SPMB.
Takut….cemas….sendiri..

Terus terang, saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu nanti saya akan bercokol di GEOLOGI Unpad. Tapi ternyata takdir membawa saya kesini.

Selesai???

belum!!!

Menghadapi hari-hari kampus dengan indah dan nyaris tanpa beban itu ternyata hanya berlaku hingga tingkat tiga, selepas itu, kembali takut….cemas….sendiri….
karena menghadapi hari-hari skripsi yang menegangkan, semacam sensasi UAN, tetapi dengan jadwal yang tidak bersamaan antara kamu dan temenmu.

Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan bisa menyelesaikan SKRIPSI dan diwisuda dengan tidak begitu lama.

Selesai????

Belum!!!!

Kebahagiaan foto-foto ria dengan temen2 dan ortu, waktu diwisuda itu, hanya bertahan hingga sehari ternyata.
Selepas itu  kembali
Takut….cemas….sendiri….
Semacam sensasi yang lebih parah daripada menghadapi SPMB
kerja dimana..??? nikah kapan…???

Terus terang, saya tidak pernah membayangkan saya akan menembus saringan perusahaan sebesar SCHLUMBERGER dan bertahan hingga tahap akhir, dan ternyata…..
GAGAL
sensasi yang lebih parah dibandingkan gagal menembus pilihan pertama SPMB

Tapi benar kata orang orang bijak,
"Seperti kepompong, kita tidak tahu bahwa suatu nanti kita akan menjadi kupu-kupu,yang kita tahu hanyalah bahwa sekarang kita sendirian, dalam gelap, dan semuanya menakutkan"

Jujur…
saya juga tidak pernah membayangkan saya bakal berhasil menembus saringan perusahaan sebesar HALLIBURTON
dan DITERIMA

Ada waktunya nanti kita menjadi kupu-kupu
tapi memang begitu takdirnya, kita harus lewati dulu sendiri, gelap, takut

Ada waktunya nanti kita menjadi kupu-kupu
tapi memang begitu takdirnya,
setiap kupu-kupu pasti kepompong dulu

wass