dari tatapan mata kami yang menerawang senja sore itu
dari tatapan mata kami yang menerawang senja sore itu
(untuk seorang sahabat)
Mentari makin beranjak menjauh dari tatapan mata kami yang menerawang senja sore itu. Angin sepoi sore itu lamat2 menyanyikan senandung penyambut malam. Jujur saja, mataku lebih “melihat kosong” daripada semburat kuning kemerahan di ufuk sana. Lalu aku membenarkan sedikit letak dudukku, menempatkan siku tanganku terkulai di atas lutut, sembari sejenak mencoba kembali merangkai pecahan2 kesadaranku.
Mulai tergambar.
Semburat awan merah itu jadi latar yang indah, bagi burung2 yang terbang pulang ke sarang. Sudah setengah jam lebih, kami termenung di atas loteng ini, memandangi senja yang beranjak tua menjadi malam.
Ini memang sudah jadi kebiasaan. Aku dan teman di sampingku ini, memang sudah sejak satu tahun yang lalu terbiasa ada di atas loteng ini. Loteng rumahnya. Biasanya menjelang malam. Atau mungkin saat hari sudah benar2 malam. Sekedar memandang langit sore, atau mungkin memandang rembulan, entah sabit, entah purnama.
Tapi lebih dari itu semua, sejak satu tahun lalu juga, kami sudah terbiasa, bercerita tentang kerasnya hidup yang kami lewati. Hari ini, atau mungkin kemarin, atau kemarinnya lagi.
Di atas loteng ini. Di rumahnya. Entah menjelang malam, atau mungkin saat hari sudah benar2 malam.

saat bener2 malam diloteng…
weleh2…jadi inget seorang temen juga…sesama penyuka astronomi dan semua tentang bintang…
kebiasaanny begini…
malem2 naik ke atp rumah…lotenglah…tujuannya sie pengen memperhatikan bintang2 siapa tau bisa nemuin bintang…
tapi…
suatu malam…
saat mulai naek ke atap…
dia diteriakin….
MALIIIIING!!!!!!!!!
hhehe….
jadinya mpe sekrg kapok naek ke atap…