tentang masa kecil

tiba2 aku terkenang masa kecil. semacam nostalgia dalam batin. mirip2 lagu sepanjang jalan kenangan. tapi dalam makna yang berbeda.
dengan lancang aku menulis di sini tentang kehidupan masa kecilku. Semacam perasaan pede yang akut bahwa akan ada orang yang tertarik untuk meluangkan sejenak dari 24 jam waktunya yang berharga untuk membaca celotehan masa kecil dari seorang ga penting semacam aku ini.
nah, dari paragraf ketiga inilah kepedean yang akut ini bermula.
aku anak pertama dari empat bersaudara. Laki2 semua. Masyaallah. Dalam banyak sisi, punya saudara laki2 semua itu banyak jeleknya, tapi ada juga bagusnya, nantilah kapan2 aku cerita.
Aku dilahirkan di sebuah desa di bengkulu. Aku menghabiskan masa kecilku di jogja sampai usia pertengahan TK. lalu aku pindah lagi ke sebuah tempat terpencil di bengkulu. semacam drop out lah, tapi dengan tanpa perasaan berduka sama sekali. yang kuingat berduka itu hanyalah guru TK ku, namanya ibu siapa aku juga sudah lupa.
Aku ingat betul beliau nangis2 waktu aku mau pindah dulu. Konon kata ibuku, aku dulu itu lucu dan imut2, agak susah aku menerima kenyataan semacam itu, tapi ya sudahlah, toh semua anak pasti terlihat lucu dan imut2 bagi ortunya, apalagi anak pertama, itulah enaknya jadi anak pertama. Jadi aku anggap saja isu bahwa aku dulu itu lucu dan imut2 waktu masih TK itu semacam euphoria ibu dan bapakku saja, waktu punya anak pertama.
Seperti kubilang tadi bahwa aku pernah tinggal di sebuah tempat terpencil di bengkulu, itu semacam majas, orang indonesia kan suka majas, dalam kasus ini, majas yang kukatakan tadi adalah majas yang memperhalus, agak sulit menemukan padanan kata untuk sebuah tempat di pinggir jalan lintas Sumatera, di tengah2 hutan, jauh dari sumber peradaban,tidak ada listrik, dan bagian yang paling parah adalah tidak ada tetangga. Lebih tepatnya hanya ada satu tetangga. Jadi di tempatku dulu itu hanya ada keluargaku (yang terdiri dari bapak ibuku) dan tetanggaku (sepasang suami istri dan dua orang anak).
Semua kesulitan inilah yang membuatku dengan agak bersahaja menyebutnya "tempat terpencil", jadi tidak usahlah didebat mengenai ketepatan kata, apakah benar itu layak disebut tempat? dan apakah masih cukup pantas mendapat kasta terpencil?
cerita berlanjut.
tidak ada yang begitu menarik dari masa kecilku. Nah….berhubung aku tinggal di sebuah tempat yang mirip dengan hutan raya, jadi kegiatan yang kulakukan setiap hari itu mirip2 dengan kegiatan orang2 di JEJAK PETUALANG, jauh sebelum ide tentang acara semacam itu datang, aku sudah jauh2 hari jadi lakon sejarah petualang yang membuat jejak.
Hari2 kuhabiskan dengan bermain sendiri saja seperti itu. Karena ternyata aku terjebak dalam sebuah kondisi yang rumit dan membutuhkan keluasan jiwa seluas samudra untuk bisa mengakomodirnya.
Kondisi itu adalah kenyataan bahwa aku adalah anak tk yang drop out dan menghabiskan nyaris setengah tahun ga ada kerjaan, lintang pukang, malang melintang, di pinggir jalan lintas sumatera, di tengah hutan antah berantah, dengan hanya punya satu tetangga yang punya anak dua (yang pertama namanya ari dan yang kedua bowo).
Praktis, aku hanya punya dua teman, ari dan bowo itu tadi. Tapi ternyata takdir belum selesai. Kisah hidup dengan sangat apik menempatkan mereka dalam peran dua orang anak sd yang lagi seneng2nya sekolah.
Berhubung jarak sekolah dari tempat kami jauhnya luar biasa, aku harus merelakan "dua-duanya" temanku untuk pergi sekolah, dan menghabiskan setengah hari waktunya untuk belajar dan bermain.
dan aku….menjadi seorang yang sejak kecil sudah mengenal bahasa2 berat semacam berdikari, tegar, optimis dan yang agak paling rumit adalah istilah "membunuh rasa kebosanan yang akut".
nantilah aku ceritakan tentang dua orang temanku itu.
sekarang aku ingin bercerita tentang hal yang paling terngiang2 dalam memori masa kecil di otakku.
Tinggal di tempat terpencil ternyata tidak selamanya menyedihkan dan nelongso kawan!!
Apakah kau pernah duduk di belakang rumahmu, bersila di samping bapakmu, memandang senja di danau seberang sana dengan teropong medan punya bapakmu yang dipinjem dari kantornya untuk anak semata wayang?
Apakah kau pernah melihat nelayan menjaring ikan, di bawah siluet senja nan apik yang membuatmu ingin menangis tanpa tahu kenapa?
Belum lagi semua itu diiringi suara pelan Bapak yang menyanyi syahdu, rasanya Bapak jadi orang yang suaranya paling merdu sedunia saat itu.
Disamping Bapak duduk dengan elegan Ibu, sambil membuat teh untuk Bapak, dan tak lupa pula susu untukku. Rasanya seperti aku tinggal di syurga saja tiap senja menjelma di sana.
Lalu kami sama2 berdendang pelan diiringi gitar tua Bapak, nyanyi2 apa saja yang teringat dan sering kami dengar, biasanya ibu jadi orang tua yang bijak, mengakomodir keinginanku untuk tampil dengan nyanyi bersama lagu "kupu2 yang lucu", atau "naik2 ke puncak gunung".
nanti, saat senja sudah semakin merah, tibalah saatnya kami menyanyikan lagu wajib, rutinitas kami setiap hari, teman.
Kau tahu apa lagunya??
lagu legendaris sepanjang masa
ISABELLA
to be continued………
Comments(1)