Archive for August, 2007

ini sekedar doa

Siang_yang_tenang

andaikan saja, air mata ini bisa menjelma butir2 kristal, pastilah ia akan kutimbang satu2, sekedar untuk kusampaikan kepada kalian, agar kalian bisa mengerti betapa kalian menurutku begitu berarti.

kawan,
baru kali ini aku merasa begitu banyak orang yang terjaga dan ingat kepada seseorang yang bernama aku.

Bagaimana tidak terharu aku, untuk tahu begitu banyak orang yang meluangkan sejenak dari waktunya yang begitu berharga untuk sekedar mengucapkan selamat, atau bertanya kabar kepadaku.

Bagaimana juga aku tidak tersipu, untuk tahu bahwa kalian menghargai buah pikiranku, ikut membaca puisi dengan intonasi sepertiku, kalian tertawa waktu aku tertawa, kalian menangis waktu aku menangis.

Apakah masih boleh aku membungkukkan badan? salam hormatku kepada kalian, yang dengan setiap surut yang aku tuliskan, kalian paksa biar tetap pasang.

Yang dengan setiap goyah yang aku teriakkan, kalian pancang biar tetap berdiri.

Yang dengan setiap tangis yang aku teteskan, kalian seka untuk tetap tertawa.

Rasa2nya aku ingin memetik senja di ufuk sore, lalu dengan paksa aku jalin berbentuk bunga, nanti aku ambil rumput2 di tengah padang sana, dengan tali temali dari belantara entah dimana.
Akan kuserahkan kepada kalian dengan bangga,
"buah tangan dari seorang yang telah kalian sinari harinya" mungkin begitu nantinya aku akan berkata.

tapi…
seandainya nanti aku terlalu malu, maka biarlah aku berpuas diri dengan memandangi kalian dari jauh
"ini sekedar doa" mungkin begitu nantinya aku akan berbisik.

duhai yang menjelmakan cinta dihati manusia,
singkirkan segala aral melintang pukang dari mereka,
tuntun ke jalan penuh taman bunga di kiri dan kanannya,
bangunkan mereka pada setiap pagi yang cerah dengan mentari tersenyum dan burung2 yang riang bernyanyi,
buat terjaga pada setiap siang yang ramah dengan desir angin yang mengajak rumput2 jalan bergoyang pelan,
tidurkan pada setiap malam yang hening dengan rembulan bersenandung dan jangkrik bermain orkestra.

dengan jalan panjang yang terbentang di hadapan mereka, anugerahi setiap jengkalnya dengan senyum.

yang tak putus putus…..
tak putus-putus…..
tak putus-putus….

bayangan

Bayangan

pada akhirnya, setiap bayangan yang menjejak di bumi adalah realitas kita sendiri.
tangan…..
kaki…………….
kepala………………..

tapi jangan pernah kita melupakan CAHAYA!

tentang takut yang berlarat-larat

Api

tentang takut yang berlarat-larat.
Mau kubuang saja hati ini rasanya.
sejak kapan ia bernama pengecut??
maka aku robek2 selaput cemas ini, biar saja berdarah-darah.
BANGUN!!!
sejak kapan kau bernama "tidur"?

inilah perjuangan, kawan

Imut

bertandang ke beberapa teman lama membuat aku jadi segar kembali, melihat mereka yang masih berjuang keras untuk menunaikan kewajibannya, tiba2 membuat aku teringat cerita tentang seseorang di jazirah arab, seseorang dari suku qazwin.
Suku itu adalah sebuah suku yang sangat gemar membuat tato.
Begini ceritanya.

suatu hari, seseorang dari suku qazwin datang kepada seorang tukang rajah (tukang tato), dengan semangat dia berkata bahwa dia ingin dibuatkan sebuah tato singa di pundaknya. Seekor singa jantan yang gagah, dengan badan yang besar, dan muka yang terlihat garang.

Sang tukang rajah pun mulai beraksi. Dengan cekatan ia memainkan jarum rajah dan mulai menggambar singa pada pundak sang qazwin tersebut.

Tiba2 sang qazwin berteriak, "aduh, sakit sekali, apa yang kau lakukan??" kata sang qazwin tersebut. "Tentu saja aku sedang menggambar singa" ucap sang tukang rajah.
"Maksudku bagian apa dari singa itu yang kau gambar?" tanya sang qazwin.
"Aku sedang menggambar ekornya" jawab sang rajah.
"Kalau begitu tinggalkan saja ekornya, biarlah singaku ini tidak berekor, rasanya sakit sekali, aku tak sanggup menahannya" kata sang qazwin tersebut.

Sang tukang rajah kembali beraksi, meneruskan gambarnya, tapi kali ini ia mencoba menggambar singa tanpa ekor.
Tiba2 sang orang qazwin kembali berteriak "Demi Tuhan, apalagi yang kau lakukan kali ini??, rasanya seperti kau ingin membunuhku saja".
Sang tukang rajah menjawab, "tentu saja aku sedang menggambar singa, jika yang kau maksud adalah bagian yang mana, maka aku sedang menggambar badannya" jawab sang tukang rajah dengan kesal. "Sudahlah, kalau begitu gambar saja di pundakku, singa yang tidak memiliki ekor dan juga tidak memiliki badan" ucap sang qazwin sambil menahan sakit.

Sang tukang rajah kembali beraksi dengan sedikit kesal, ia mulai menggambar kepala singa sekarang, tentu saja singa itu nantinya hanya punya kepala, tanpa badan dan tanpa ekor.
Sekali lagi sang qazwin berteriak, "Bagian mana lagi yang kau gambar sekarang?? Aku bisa mati jika kau tetap menggambar seperti ini".
"Aku menggambar surainya", katanya.
"Ah sudahlah, kalau begitu biarkan saja singaku itu tidak memiliki surai, pendekkan juga telinganya!" kata sang qazwin.

Sang tukang rajah kehabisan kesabaran, lalu dengan serta merta ia membanting jarum rajahnya sembari berkata "Singa macam apa itu? tidak punya badan, ekor dan surai??? Tuhanpun tidak menciptakan singa semacam itu".

untuk semua teman2ku yang masih berjuang, inilah perjuangan, kawan.

biar suatu nanti, akan ada yang memetik buahnya

Coconuttree

sejenak lamunanku begitu syahdu,
siang panas ini menjelma jadi sejuk yang biasa kurasa empat belas tahun silam.
waktu kakekku pelan berkata "cucuku, ayo kita menanam kelapa"

sebiji kelapa dengan tunasnya, siang itu, kugenggam erat,
empat belas tahun kedepan nanti, dia jadi saksi kebijakan yang kusimpan dalam2, dari seorang tua di depanku yang berkata
"di mana kamu mau tanam kelapanya?"

sebiji kelapa dengan tunasnya, siang itu, kugenggam erat,
hari itu dia tahu, bahwa aku memang masih terlalu lugu
"kenapa kita menanam kelapa??" tanyaku, "bukankah kelapa besarnya lama?"

seorang kakek menggenggam tanganku erat, empat belas tahun silam di sebuah kebun yang sejuk pada suatu siang yang tenang.


"
ayo kita menanam kelapa!!" ujarnya
"biar suatu nanti, akan ada yang memetik buahnya"