Archive for September, 2007

Ode untuk orang-orang yang sendiri

Walking_alone

Dalam rentang panjang waktu hidup kita yang terseok,
pasti ada satu
dua masa dimana kita harus menikmati kesendirian yang pahit.
Terperangkap dalam belantara terasing dibawah tatapan beribu-ribu mata,
atau menangisi jutaan keping beban yang tak memberi jeda nafas kita
untuk terhela barang satu dua detik saja.

Aku, suatu kali pernah juga menitikkan air mata, pada jenak-jenak hidup dari keseluruhan waktu panjangku yang bernama “sendiri”

Maka diwaktu yang singkat ini, izinkan aku sejenak menjadi kurma,
yang beribu tahun lalu memberi teduh pada Muhammad, di sebuah kebun nun
di Thaif sana.

Dari sudut kenangan itu, kulontar senyum untuk siapapun saja,
“gerangan apa engkau meneteskan air mata, kawan?”

Hidup ini, bagi kita adalah orkestra. Gemuruh
syair, alunan biola dan harpa adalah nada dalam pagelaran hidup kita,
tapi hening juga nada, diam sejenak dalam syahdu yang kadang2 mengiris,
untuk lalu bergemuruh lagi dengan simfoni luar biasa yang memaksa dunia
ini bertepuk tangan, suka atau tidak suka.

“gerangan apa engkau meneteskan air mata, kawan?”

Atas nama ibu yang telah menggadaikan separuh nafasnya untuk kita, maka tidak sekali-kali kita akan surut.

Atas nama ayah yang mengisi jenak-jenak hari kita dengan semangatnya, maka tidak sekali kali kita akan goyah.

Hidup kita terlalu berharga untuk jatuh dan
hancur luluh!
Maka kita tetap berdiri,
betapapun rapuh kaki,
betapapun
teriris hati,
betapapun berduri jalan ini,
betapapun SENDIRI!

Maka hari ini kita hapus airmata dalam diam yang hening,
lalu
berjanji dalam hati,
bahwa tidak suatu apa akan membuat kita limbung,
tidak mentari,
tidak bayu,
tidak bumi.

“gerangan apa engkau meneteskan air mata, kawan?”

Ceritakan sejenak padaku! akan aku dengarkan
dengan sepenuh waktu,
sesabar angin siang yang membelai-belai ilalang,
sesabar bulan tua yang menemani kita,
dari sabit hingga purnama,
dari
sabit hingga purnama

surat ini dek, kutulis untukmu

Contemplation

assalamualaikum

teriring doa semoga kau baik-baik saja dek,

surat ini, dengan tergesa kk tuliskan padamu, pada suatu sore yang
tiba-tiba membuatku sadar, bahwa kau sedang menyiram dafodil di
belakang rumah kecil kita itu.

kukirimkan surat ini lewat angin, agar kau bisa menemaniku sejenak belajar mengeja, tentang cita2, pengorbanan, dan juga dirimu.

kk disini baik-baik saja, kecuali perasaan gundah gulana yang
membuncah ini, tak kurang suatu apapun jua. bagaimana denganmu dek??

izinkan kk sejenak bercerita dengan sederhana, sekali waktu, izinkan aku belajar dari semangatmu yang lugu.

masih sempatkah kk meminta maaf padamu? di waktu yang sesore ini
harusnya aku telah mengajarimu membelah cakrawala, harusnya kita
sama-sama menantang kokoh kaki gunung, mencipta api lewat kata-kata
kita yang menjilat-jilat angkasa, mengukir rupa bumi dengan tapak-tapak
kita, membawa ayah bunda terbang ke negri di nirwana.

maka izinkan kk meminta maaf dengan sederhana, maafkan jika hal
terhebat yang pernah aku lakukan hingga saat ini adalah menumbuhkan kau
menjadi seorang yang biasa-biasa saja.

btw….

dibawah ada yang nanya daffodil kaya apa, ini gambarnya

Dafodil_yellow

kita dikelilingi orang-orang besar

Handshake

seumur hidupku, baru akhir2 ini, aku sadar, bahwa kita mungkin selama ini selalu dikelilingi "orang2 besar"

tidak semua yang kubilang "orang besar" itu ORANG BESAR. Terkadang ia cuma orang biasa yang tanpa sadar memiliki jiwa yang besar, atau mungkin juga ORANG BESAR yang low profile, jadi tidak mau dianggap besar.

nah, tugas dari orang kecil sepertiku, adalah memulung kebijakan yang ditebarkan oleh "orang-orang besar"

salah satu kebijakan yang ditebar oleh "seorang besar" adalah pertanyaannya sekira satu bulan yang lalu, di suatu sore.

"Rio. apa yang kau lakukan apabila kau sedang sedih? dan apa yang kau lakukan untuk menghilangkan kesedihanmu??"
aku masih loading menunggu inspirasi jawaban, lalu tiba2 dia berkata
"kalau aku biasanya pergi ke masjid, sholat berjamaah, dan setelah itu menyalami semua orang yang ada di masjid hari itu".
Aha,
ini ide yang menarik,
saat kau sedih, pergilah ke masjid, sholat berjamaah, dan salamilah semuuuuaaaaa yang ada di masjid hari itu.
Ini kebijakan besar yang unik, menurutku, idenya bagus dan orisinil, coba kita bikin lebih dramatis.
Setiap kali kita bergenggaman dengan orang lain dan mengucapkan salam,
serasa kita disentakkan bahwa kita tidak sendiri,
serasa kita memulung semangat dari sungging senyum dibibir tiap mereka,
serasa kita sama2 mencipta api lewat kata2 yang menjilat-jilat angkasa,
serasa ada teman kita menebar cinta untuk dunia.
Maka apa kabarmu hari ini?
jika sedih bergelayut, ayo kita menelusup ke shaf mereka,
lalu menjabat erat semua nama
bercerita lewat angin.
membongkar resah yang lama membuncah,
mengirimkan senyum untuk semua kenang,
mengirimkan maaf untuk semua khilaf.
Maka apa kabarmu hari ini?
jika sedih bergelayut, ayo kita menelusup ke shaf mereka,
satu…..
dua…..
aku dapat empat puluh genggam cinta!
kau dapat berapa????????

namimah

Knife20attack

masuk dunia kerja bikin aku belajar hal baru lagi. tiba2 aku teringat lagi sebuah kisah. tentang namimah

suatu kali di negri nun jauh di sana, beberapa ratus tahun yang lalu. seorang kepala rumah tangga berjalan ke pasar. di pasar seseorang menawarkannya seorang budak.

sang penjual berkata, "belilah budak ini, segala kelebihan yang diinginkan majikan ada di dia, rajin bekerja, pandai memasak, tidak pernah membangkang, dan penurut"

aha…ini menarik sekali, pikir sang laki2 itu.

lalu dia pun mendekati sang penjual, lalu bertanya.

"saudaraku, kau telah menjelaskan banyak sekali kelebihan orang ini, lalu apa kekurangannya?"

"dalam banyak hal orang ini baik, kecuali satu, dia suka melakukan namimah!" kata sang penjual.

sang laki2 berpikir ulang, lalu memutuskan tak apalah dia membeli budak itu, toh kekurangannya hanya satu.

singkat  cerita sang budak berpindah tangan, hari ke hari ia bekerja sangat rajin hingga sang majikan senang kepadanya.

sampai suatu ketika, sang budak bertemu istri majikannya, pada suatu sore, sembari berkata "majikanku, sesungguhnya suamimu itu sudah mulai bosan padamu, dia sudah mulai melirik wanita lain, percayalah padaku, tapi jangan katakan pada tuan aku memberitahu ini padamu, cukuplah kau lakukan resep kuno keluarga kami, biasanya, jika ada suami yang mulai ingin berselingkuh, kami mengambil sebagian rambutnya pada saat dia tidur, dan keesokan harinya ia pasti kembali seperti sedia kala"

setelah itu, di lain tempat ia menemui san majikan laki2 sembari berkata "istrimu sudah tidak mencintaimu lagi, dia ingin membunuhmu, kalau tidak percaya, cobalah kau pura2 tidur nanti malam, lihat bagaimana ia menghampirimu"

maka malam itu pun terjadilah, sang istri menghampiri suaminya dengan pisau cukur, lalu kesalah pahaman semakin parah, hingga mereka saling bunuh.

itulah NAMIMAH,

yang dijadikan namimah tidak mesti berita bohong, boleh jadi itu berita benar, yang jika disampaikan membuat orang yang mendengarkan tidak senang.

apa tiba2 kau merasa tidak asing??????