Archive for September 20th, 2007

Ode untuk orang-orang yang sendiri

Walking_alone

Dalam rentang panjang waktu hidup kita yang terseok,
pasti ada satu
dua masa dimana kita harus menikmati kesendirian yang pahit.
Terperangkap dalam belantara terasing dibawah tatapan beribu-ribu mata,
atau menangisi jutaan keping beban yang tak memberi jeda nafas kita
untuk terhela barang satu dua detik saja.

Aku, suatu kali pernah juga menitikkan air mata, pada jenak-jenak hidup dari keseluruhan waktu panjangku yang bernama “sendiri”

Maka diwaktu yang singkat ini, izinkan aku sejenak menjadi kurma,
yang beribu tahun lalu memberi teduh pada Muhammad, di sebuah kebun nun
di Thaif sana.

Dari sudut kenangan itu, kulontar senyum untuk siapapun saja,
“gerangan apa engkau meneteskan air mata, kawan?”

Hidup ini, bagi kita adalah orkestra. Gemuruh
syair, alunan biola dan harpa adalah nada dalam pagelaran hidup kita,
tapi hening juga nada, diam sejenak dalam syahdu yang kadang2 mengiris,
untuk lalu bergemuruh lagi dengan simfoni luar biasa yang memaksa dunia
ini bertepuk tangan, suka atau tidak suka.

“gerangan apa engkau meneteskan air mata, kawan?”

Atas nama ibu yang telah menggadaikan separuh nafasnya untuk kita, maka tidak sekali-kali kita akan surut.

Atas nama ayah yang mengisi jenak-jenak hari kita dengan semangatnya, maka tidak sekali kali kita akan goyah.

Hidup kita terlalu berharga untuk jatuh dan
hancur luluh!
Maka kita tetap berdiri,
betapapun rapuh kaki,
betapapun
teriris hati,
betapapun berduri jalan ini,
betapapun SENDIRI!

Maka hari ini kita hapus airmata dalam diam yang hening,
lalu
berjanji dalam hati,
bahwa tidak suatu apa akan membuat kita limbung,
tidak mentari,
tidak bayu,
tidak bumi.

“gerangan apa engkau meneteskan air mata, kawan?”

Ceritakan sejenak padaku! akan aku dengarkan
dengan sepenuh waktu,
sesabar angin siang yang membelai-belai ilalang,
sesabar bulan tua yang menemani kita,
dari sabit hingga purnama,
dari
sabit hingga purnama

surat ini dek, kutulis untukmu

Contemplation

assalamualaikum

teriring doa semoga kau baik-baik saja dek,

surat ini, dengan tergesa kk tuliskan padamu, pada suatu sore yang
tiba-tiba membuatku sadar, bahwa kau sedang menyiram dafodil di
belakang rumah kecil kita itu.

kukirimkan surat ini lewat angin, agar kau bisa menemaniku sejenak belajar mengeja, tentang cita2, pengorbanan, dan juga dirimu.

kk disini baik-baik saja, kecuali perasaan gundah gulana yang
membuncah ini, tak kurang suatu apapun jua. bagaimana denganmu dek??

izinkan kk sejenak bercerita dengan sederhana, sekali waktu, izinkan aku belajar dari semangatmu yang lugu.

masih sempatkah kk meminta maaf padamu? di waktu yang sesore ini
harusnya aku telah mengajarimu membelah cakrawala, harusnya kita
sama-sama menantang kokoh kaki gunung, mencipta api lewat kata-kata
kita yang menjilat-jilat angkasa, mengukir rupa bumi dengan tapak-tapak
kita, membawa ayah bunda terbang ke negri di nirwana.

maka izinkan kk meminta maaf dengan sederhana, maafkan jika hal
terhebat yang pernah aku lakukan hingga saat ini adalah menumbuhkan kau
menjadi seorang yang biasa-biasa saja.

btw….

dibawah ada yang nanya daffodil kaya apa, ini gambarnya

Dafodil_yellow