Archive for October 24th, 2007

Aku Harus Melaut Lagi

Aku harus melaut lagi
menuju samudera dan langit yang kesepian
yang kupinta hanya kapal menjulang
dan bintang yang menjadi kemudinya*


Pendingin_memories_23

Perjalananku kali ini membawaku berkenalan dengan seorang tua yang penuh perjuangan menghadapi hidup.

beliau ini bekerja sebagai kru kapal, tongkang pengangkut limbah pengeboran minyak lepas pantai. Orang2 biasa memanggilnya "Pak Tua".

Dari beberapa kali pertemuan aku berbicara banyak dengannya, aku baru tahu bahwa betapa para pekerja sekeras mereka dihargai dengan rupiah yang tak seberapa.

Pak Tua memiliki jadwal kerja 2:1, 2 minggu dia bekerja di kapal siang dan malam, di tengah lautan, bolak-balik ke dermaga, 1 minggu dia diberikan kesempatan off untuk istirahat, begitu seterusnya.

Dari satu minggu istirahat itu, beliau hanya punya waktu lima hari untuk di rumah bersama keluarga, dua hari sisanya adalah perjalanan menuju dan dari tempat kerja.

Setiap hari beliau mengelap keringat di terik panas, menyeka mata yang berair waktu hari sudah larut malam dan pekerjaan kapal belum selesai, dan mengelus dada menguatkan diri bahwa ini semua untuk anak istri, makan sehari-hari, dan beli baju baru waktu idul fitri.

tiba saatnya idul fitri, Pak Tua malang tidak mendapatkan THR dari atasannya, usut punya usut, THR datang bulan berikutnya dan tidak seberapa pula jumlahnya, teringat anak istri dan jungkir balik kerja siang malamnya maka Pak Tua memberanikan diri untuk bertanya "bukankah itu hak saya?" ujarnya.

"betapa susah cari kerja" majikannya berkata, "kalau masih mau diterima, kerja saja dengan sebenar-benarnya, kalau kamu banyak bertanya, lamaran baru masih banyak di meja saya!"

Pak Tua mundur teratur,
sambil tersenyum perih dia lalu menawarkan saya " mau minum2 kopi dulu pak????"

*) poems by john masefield

Filosofi Lima Jari

Image1927

Suatu kali, seseorang pernah menjelaskan padaku tentang filosofi
lima jari. Kata beliau, tiap2 jari pada tangan kita merupakan
perlambang sesuatu. Aku tercenung khusyuk mendengarkan, lalu dia
bertutur.

Ibu jari, kata beliau, merupakan perlambang penguasa, ibu jari
adalah jari yang mengumpulkan semua keunggulan empat jari yang lain,
dan mengontrolnya untuk dapat melakukan sesuatu, mensinergikan semua
kekuatan empat jari yang lain, dan meledakkannya pada momentum yang
tepat. “Cobalah kau genggam palu dengan empat jarimu selain ibu jari”
kata beliau padaku, “dan ayunkan palu itu sekuat tenaga, hampir pasti
palu itu terbang entah kemana”. Itu cerita beliau tentang ibu jari,
jari paling besar yang mengontrol empat jari lainnya.

Telunjuk, kata beliau lagi, adalah perlambang orang kaya, itulah
kenapa kita terbiasa menunjuk-nunjuk sesuatu, atau memerintahkan
seseorang melakukan sesuatu dengan telunjuk, persis seperti orang kaya
yang kelakuannya mau apa-apa tinggal tunjuk. Aku tersenyum sedikit,
kupikir bisa jadi juga begitu, lalu kudengarkan lamat2 dia meneruskan.

Jari Tengah, ujarnya bijak, adalah perlambang Ulama (orang yang
berilmu), jari tengah merupakan jari yang paling tinggi diantara kelima
jari,  akan tetapi setiap kali kita akan makan menggunakan tangan, atau
mengambil suatu barang, secara anatomis jari tengah akan menarik diri
menjadi sejajar dengan empat jari lainnya. Itulah perlambang kebijakan
jari tengah, Ulama.

Aku tersenyum simpul, sambil curi-curi kupraktekkan mengambil
kerikil di dekat kakiku dan itu dia si jari tengah mensejajarkan diri
dengan yang lain.

Jari Manis, ujarnya lagi, ini adalah perlambang pemuda, pemuda
selalu manis untuk dipandang, entah karna kepintarannya, luas
pengetahuannya, anggun rupanya, atau karna hal2 lain, kau tahu,
katanya, itulah kenapa kita pasang cincin di jari manis kita, itu
perlambang keindahan pemuda!!

Tak sabar aku menanti yang terakhir, sambil tersenyum aku
mendengarkan dia berkata merdu, Jari Kelingking, tak lain tak bukan
adalah perlambang wanita, katanya. Kelingking jari terlemah diantara
semuanya.

Aku mengangguk takzim, tapi lalu tersenyum nakal “bukankah tidak selamanya perempuan itu lemah?”

Kau benar, kata beliau, itulah kenapa permainan “suit” kita
memenangkan kelingking dari ibu jari, penguasa saja bisa bertekuk lutut
dengan wanita, kata beliau. Benar juga ya, pikirku, sesaat sebelum dia
membuyarkan lamunanku dan berkata, kelingking kalah dengan telunjuk
seperti wanita dengan harta ^_^.

Dalam Doaku (poems by sapardi djoko damono)

Colibri

Dalam Doaku

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Romansa

06romances0534520

Sejak usia belasan, kita mulai belajar mengeja, bahwa sudah
takdirNya untuk tiap-tiap suatu apa yang ada di dunia, selalu ada
pasangannya.

Agak terbata kita, saat sadar kita mulai bisa membaca bahwa
semua kekaguman kita bermuara pada tiap-tiap senyum manis, kerling mata
menawan, wajah rupawan, dan pada setiap gemulai gerak dengan anugerah
keindahan.

Tiap-tiap paragraf kita bercerita tentang betapa sulit untuk
lari dari setiap tawa yang membuat kita terseret deras entah kemana,
tentang hampir mustahil kita mendustakan keelokan sesempurna siluet
surya tenggelam di ufuk sana.

Lama-lama kita mulai bisa mengerti makna, betapa rupa
tidaklah selamanya! karna warna memudar, karna yang kuat merapuh, yang
segar melayu, yang muda menua.

lalu kita mengambil selembar kertas, dan menuliskan segores
pesan untuk anak cucu kita, bahwa betapa bahagia bila menghabiskan sisa
umur kita dengan yang menyejukkan pandang mata, dengan yang
mengingatkan bila lupa, dengan yang membawa tawa bila duka, dengan yang
bila terentang jarak dunia “kita percaya!!!”.

Di penghujung usia kita, bolehlah kita bermimpi untuk
tertidur pulas dipangkuan, tersungging di bibir sebentuk putih
senyuman, seputih melati pilihan waktu usia belasan!

Sampai Nanti, Sampai Mati

68992308i4mmrxmmimnotafraid

Tibalah kita pada hari ini, jenak dimana kita sempatkan diri
untuk dengan jujur merasa malu dan meminta maaf atas sekian ratus
lembar hidup yang kita lewati dengan mengubur dalam-dalam bara semangat
yang mestinya menyala berkobar-kobar.

Tibalah kita pada hari ini, jenak dimana kita sempatkan diri
untuk dengan jujur merasa malu dan meminta maaf atas percaya diri yang
telah lama kita binasakan, atas nyali yang sudah sejak lama menciut dan
raib.

Hanya karna tangan ini belum menggenggam dunia sebanyak apa yang orang lain bisa genggam,

hanya karna kita belum bisa menjejakkan kaki pada jarak sejauh tapak-tapak mereka membekas,

hanya karna kita belum bisa bicara selantang dan selugas suara mereka bergema,

hanya karna kita belum bisa menulis seindah apa yang orang lain tulis,

hanya karna syair kita kita masih terlalu polos dibanding gurindam orang-orang disana.

Kita dengan picik telah meluluh-lantakkan pondasi harga diri
yang puluhan tahun telah Ayah dan Ibu kita bangun! lalu dengan rendah
diri beringsut dari keramaian, dan bersembunyi dibalik batu besar
sembari berbisik lirih “tidak sekali-kali aku dapat berdiri sama tinggi
dengan orang lain”

Tibalah kita pada hari ini, jenak dimana kita keluar
malu-malu dari persembunyian kita sambil berjanji bahwa kita akan tetap
melangkah…………………………….bicara………………………menulis………………..dan bersyair

SAMPAI NANTI, SAMPAI MATI!