Romansa
Sejak usia belasan, kita mulai belajar mengeja, bahwa sudah
takdirNya untuk tiap-tiap suatu apa yang ada di dunia, selalu ada
pasangannya.
Agak terbata kita, saat sadar kita mulai bisa membaca bahwa
semua kekaguman kita bermuara pada tiap-tiap senyum manis, kerling mata
menawan, wajah rupawan, dan pada setiap gemulai gerak dengan anugerah
keindahan.
Tiap-tiap paragraf kita bercerita tentang betapa sulit untuk
lari dari setiap tawa yang membuat kita terseret deras entah kemana,
tentang hampir mustahil kita mendustakan keelokan sesempurna siluet
surya tenggelam di ufuk sana.
Lama-lama kita mulai bisa mengerti makna, betapa rupa
tidaklah selamanya! karna warna memudar, karna yang kuat merapuh, yang
segar melayu, yang muda menua.
lalu kita mengambil selembar kertas, dan menuliskan segores
pesan untuk anak cucu kita, bahwa betapa bahagia bila menghabiskan sisa
umur kita dengan yang menyejukkan pandang mata, dengan yang
mengingatkan bila lupa, dengan yang membawa tawa bila duka, dengan yang
bila terentang jarak dunia “kita percaya!!!”.
Di penghujung usia kita, bolehlah kita bermimpi untuk
tertidur pulas dipangkuan, tersungging di bibir sebentuk putih
senyuman, seputih melati pilihan waktu usia belasan!
