Sampai Nanti, Sampai Mati
Tibalah kita pada hari ini, jenak dimana kita sempatkan diri
untuk dengan jujur merasa malu dan meminta maaf atas sekian ratus
lembar hidup yang kita lewati dengan mengubur dalam-dalam bara semangat
yang mestinya menyala berkobar-kobar.
Tibalah kita pada hari ini, jenak dimana kita sempatkan diri
untuk dengan jujur merasa malu dan meminta maaf atas percaya diri yang
telah lama kita binasakan, atas nyali yang sudah sejak lama menciut dan
raib.
Hanya karna tangan ini belum menggenggam dunia sebanyak apa yang orang lain bisa genggam,
hanya karna kita belum bisa menjejakkan kaki pada jarak sejauh tapak-tapak mereka membekas,
hanya karna kita belum bisa bicara selantang dan selugas suara mereka bergema,
hanya karna kita belum bisa menulis seindah apa yang orang lain tulis,
hanya karna syair kita kita masih terlalu polos dibanding gurindam orang-orang disana.
Kita dengan picik telah meluluh-lantakkan pondasi harga diri
yang puluhan tahun telah Ayah dan Ibu kita bangun! lalu dengan rendah
diri beringsut dari keramaian, dan bersembunyi dibalik batu besar
sembari berbisik lirih “tidak sekali-kali aku dapat berdiri sama tinggi
dengan orang lain”
Tibalah kita pada hari ini, jenak dimana kita keluar
malu-malu dari persembunyian kita sambil berjanji bahwa kita akan tetap
melangkah…………………………….bicara………………………menulis………………..dan bersyair
SAMPAI NANTI, SAMPAI MATI!
