Archive for December, 2007

selalu cinta

brothers

Waktu pulang menjelang lebaran kemarin, sudah kuniatkan dalam hati untuk mengajarkan sesuatu buat dua adikku yang paling kecil. Yang nomer dua kelas satu smp, yang bungsu kelas lima sd. Bayu dan Giri.

Sudah kuputuskan bahwa aku bakal mengajarkan mereka mengetik sepuluh jari (yang aku juga struggle belajar sendiri pake software typing pal, hehe).

Strateginya begini, “mas beliin game baru, transformer, tapi kalo yang mau main game harus latihan ngetik dengan mas, gimana?”, kontan saja mereka semua mengiyakan, haha…demi game baru apa sih yang enggak, dasar mereka.

Lalu hari-hari itu pun dimulai, Bayu, adikku yang lebih tua, masuk sekolah siang hari, dan giri si bungsu masuk sekolah pagi hari. Kerjaan tiap hari ya nganterin mereka ke sekolah pagi-pagi, dan siang-siang.

Maka strategi dimulai. Kujanjikan sebuah hadiah. “ini sayembara dek, diakhir waktu mas liburan di bengkulu ini, mas bakal adakan lomba, lomba mengetik sepuluh jari, siapa diantara Bayu atau Giri yang lebih cepet dan lancar mengetik sepuluh jari mas kasih hadiah lima puluh ribu, dan yang kalah mas kasih sepuluh ribu”.

Hari-hari semakin menarik dan menantang.Setiap pagi, aku mengajari bayu mengetik, jari demi jari. Siangnya gantian si Giri. Tentu saja setelah beberapa menit mengetik kita lantas main game sama-sama, dan aku juga ikutan, hehe…ini taktik pendekatan luar biasa.

Pelan-pelan kuajari mereka mengetik dengan semua jarinya, pagi, siang, dan juga malam hari sembari bercerita apa saja, kadang-kadang aku bercerita dan mereka yang menuliskannya, terkadang mereka menulis apa-apa yang mereka ingin tulis, keluh kesah, orat-oret ga jelas, juga puisi.

Semakin hari mereka semakin lancar, dan aku juga sadar bahwa ini semua harus dilakukan dengan enjoy, jadi di hari-hari terakhir tak kupaksakan mereka untuk belajar. Tapi ternyata mereka yang meminta “mas, ayo ajari lagi ngetik” kata mereka.

Lalu kita mulai lagi mengetik semua, kumpulan puisi si bungsu, atau orat-oret abstrak kakaknya. Lalu main game lagi, pastinya.

Tiba-tiba suatu hari handphone ku berdering, “rio, kamu lusa berangkat ke samarinda ya! Tiket sudah dipesen, ada di kantor”, panggilan tugas, seperti biasa, dari kantorku. Syawal ini berarti jauh dari mereka semua.

Tinggal dua hari lagi. Kukabarkan pada mereka bahwa malam terakhir aku di bengkulu, itulah malam pelaksanaan sayembara, dan pemenangnya akan kukabari pada pagi harinya sebelum aku berangkat ke bandara.

Malam keberangkatan. Kumulailah sayembara itu. Bayu mendapatkan waktu lebih dulu, mengetik tulisan yang sudah kupasang di komputer, dengan kucatat waktunya, lalu Giri giliran kedua.

“aha………..sedikit sekali selisihnya” teriakku “lima detik saja”. Karuan saja mereka penasaran dan ingin tahu, siapa pemenangnya. “ayo mas, sekarang aja” teriak mereka. “haha…..tunggu besok pagi dek” ujarku.

“keesokan paginya setelah berkemas dan Bapak siap mengantar ke bandara, kuhadiahkan amplop kepada masing2 mereka. “liat di dalam amplop dek, siapa yang dapet lima puluh ribu dia pemenangnya. Yang dapet sepuluh ribu latihan lagi ya……”

lalu kusalami ibu dengan syahdu, “bu…aku pergi dulu, maaf lebaran ini aku tidak bisa pulang”

Aku berangkat, motor bapak sudah dihidupkan dan aku dibonceng dibelakang. Lalu kudengar bayu berteriak “hore…..aku menang….amplopku isinya lima puluh ribu” aku tersenyum, lalu giri mengeluh “yah…berarti aku kalah.

Motor berjalan dan aku membatin pelan “dek, seandainya saja mas ga bisa beramal sehebat orang-orang disana, cukuplah ilmu yang kuajarkan itu jadi pahalaku”.

Lalu tiba-tiba giri sontak berteriak “waaaa……amplopku juga lima puluh ribu”.

Suatu malam di samarinda:“mas, makasih hadiahnya, uang dan amplop ini kami simpan dalam lemari, buat kenang2an, ga akan kami pake jajan”.

Tuhan, jelmakan mereka jadi pribadi luar biasa yang melampaui kakaknya, mengadopsi segala kelebihan orangtuanya, jadi obat buat kekurangan keluarganya.

Dari setiap jalan mereka yang jatuh terjerembab, biarkan mereka berdiri lagi sendiri. Bisikkan saja di telinganya bahwa selalu masih ada cinta buat mereka.

-1 syawal 1428 H-

lebaran lagi

lebaran lagilebaran lagi

sepertinya skenario lebaran kali ini sama, di lapangan lagi. Tapi ga apa-apa lah, suatu nanti ini jadi cerita heroik untuk anakku “dulu itu, bapakmu lebarannya di negri antah berantah, jauh dari orang tua, sendiri, tapi gapapa toh, ya itu demi kalian2 juga”. hehe………..

Pak, Bu, sungkemku terlambat lagi. padahal engkau sudah memaafkan jauh dari sebelum aku lahir

“bu, anak kita nanti kalau lahir kita besarkan sama-sama dengan cinta, sampai dia dewasa, sampai kita tua. dan untuk semua salah-salahnya kita maafkan saja sejak dia belum lahir” begitu ya pak, dialognya?

ah……hidup memang luar biasa.

hujan

rain
Jakarta hujan lagi. Aku terperangkap dalam sebuah warnet pinggir jalan seusai membaca email seorang kawan nun disana yang bercerita sepenggal kisah dari lubuk hatinya.

Bagaimana aku keluar dari sini ? sedang hujan selebat ini. Aha…..ternyata ada anak kecil menawarkan jasa ojek payung. Kupanggil dia

“dek…sini dek…”

“antarkan kk ke atm sebentar ya”, anak itu mengangguk pelan

“kamu kelas berapa dek?”

“satu smp k”

“lagi ga sekolah dek?”

“tadi masuk pagi kak”

“oooh, kenapa ujan2an, ga takut sakit dek?”

“biasanya sih sakit kak, tapi gimana lagi, butuh uang”

“hmmm…ibunya kerja dimana?”

“ibu kerja di rumah sono k, jadi pembantu rumah tangga”

“oh…kalo bapaknya kerja dimana?”

“bapak udah ga ada”

Lalu aku diam……….. kisah mereka selalu luar biasa, perjuangan yang tak biasa, ketabahan memesona. Aku jadi terharu, lalu kurogoh semua uang di sakuku dan kuberikan untuknya.

“eh dek, kok ga bawa payung dua? Kan kebasahan kalo satu doang payungnya”

“ga punya lagi k, adanya cuma satu”

“lalu kutarik dia mendekat, ga usah jauh2 dek, nanti kena hujan”

Untuk orang-orang seperti mereka, kurapal doa dalam diam sediam-diamnya, lalu berbisik dalam hati, kuceritakan kisahmu nanti untuk tujuh generasi.

serenade cinta yang tak cengeng

434019536_73a1dedf7aedited_1

Pernah dengar “11 januari?” lagu ini ternyata persembahan armand maulana untuk istrinya. Aku baru tahu kalau kisah pernikahan armand maulana vokalis gigi itu lumayan unik. Hehe….jarang-jarang aku bercerita seperti ini, ini bukan infotaiment, tapi kisah unik tujuh generasi.

Beliau menikah diam-diam di sebuah tempat di bilangan jakarta barat. Pada saat ijab qabul tiba-tiba listrik mati. Luar biasa panik. Pertolongan datang, tiba-tiba ada pedagang mi tek-tek lewat, pedagang itu dipanggil lalu dibayar lima puluh ribu dan lampu petromaxnya dipinjam sebentar untuk penerangan. Jadilah “aku terima nikahnya…..” itu diterangi lampu petromax dari pedagang mi tek-tek.

Untuk mengenang cerita itulah maka Armand maulana membuat lagu “sebelas januari” untuk istrinya. Luar biasa.
*******
Pernah dengar pertemuan pertama aa gym dengan teh ninih? Konon kabarnya aa gym terpesona oleh suaranya, pada waktu acara isra’ mi’raj (atau maulid nabi,atau nuzulul qur’an aku udah lupa), beliau hadir dan mendengarkan teh ninih mengaji. Jadilah cinta aa gym bersemi pada pendengaran pertama, tanpa perlu melihat lebih dulu.

Ini juga luar biasa.
********
Ustad arifin ilham juga ternyata romantis luar biasa. Pada saat meminang istrinya (lewat telpon) beliau berkata “aku ingin terbang ke surga, tapi aku hanya punya satu sayap, maukah kau menjadi sayap satunya dan kita sama-sama terbang ke syurga”, astaga….kontan saja istrinya diam seribu basa.

Ini cinta luar biasa.
*********
Lalu bagaimana cerita kita?

Tuhan, anugerahkan aku cinta luar biasa.
Yang akan jadi dongeng pengantar tidur tujuh generasi. Cinta mulia yang jadi skenario pengganti sinetron-sinetron basi.
Serenade cinta yang tak cengeng, kami bangun dari bait-bait nada tertatih-tatih menujuMu. Lalu berikan kami lampu petromaks pedagang mi malam hari, atau cinta tanpa tatap mata, atau syair terindah “sudikah kiranya” hingga ia diam seribu basa. amin

Sudikah kiranya?

Whiteyellowbeautifulflowers

Ayah, ceritakan sejenak padaku, bagaimana dulu kau temukan bunda diantara berjuta disana? agar aku bisa memilih satu dari sekian bunga. Yang mana kiranya sesabar hati bunda?

Ayah, ceritakan padaku bagaimana kau menemukan bunda, agar aku bisa menerka sesiapa yang paling setia, sesabar bunda menemanimu hingga renta, dalam tawa dalam duka.

Malu-malu aku bertanya, apakah bunda dulu cantik jelita? “seperti apa warna bunga menawan hati ayahanda?” biar aku bisa merasa, mana-mana penghibur lara, penyejuk hati penawan mata.

lalu apa pula itu, ayah? senyum malu-malu ibunda waktu bercerita tentang suaminya. Seperti tak ada yang setegar engkau waktu bunda bercerita lelakon epik yang kau mainkan, waktu bunda mengandungku, saat kelahiranku, hari-hari pertama kita di rumah baru, atau waktu engkau marah dalam diam saat-saat berselisih paham. “kata bunda selalu saja kau yang tersenyum lebih mula”.

Ajarkan aku lelakon ksatria, ayah! Agar kupetik bunga di atas puncak bukit sana, atau di kedalaman lembah mayapada, atau di pinggir oase gurun sahara, atau dimana-mana yang kaki biasa tak mampu menapaknya, biar kulihat lagi senyum seindah bunda, waktu bercerita tentang suaminya. “kata bunda kau seperti ksatria”.

Dengan bunda yang semulia itu, apakah dulu kau sebijak para nabi, ayah? Ajarkan aku membaca -alif ba ta- dunia, lalu kuterjemahkan dalam apa saja, meskipun tak “se-sang nabi sang baginda” tapi aku tetap membaca. Akankah nanti bisa berjumpa pasangan jiwa semulia bunda?

Seperti apa dahulunya kau pinta bunda untuk bersama, ayah? Turunkan aku sedikit saja dari keberanianmu yang menggunung itu, biar bila suatu ketika Dia berkenan memberinya, aku berani lantang berkata:

sudikah kiranya dinda menjadi bunda?
untuk yang tidak setegar ayahanda
yang sabarnya tak sesamudera
yang bijaknya tak se -alif ba ta-
yang tak sesatria
sudikah kiranya?

yang tak berbatas, tak bernama

431489428_449b249a3a

seperti pagi-pagi yang biasa, kita terbangun menggeliat, lalu
berjalan-jalan menikmati hari yang seperti bernyanyi untuk kita sendiri.

matahari bagaimanapun juga tetap bersinar, meski tidak setiap kita bisa merasa hangat, begitupun juga aku.

kepada kawan yang tahu betul seluk-beluk keseharianku, yang mengerti
betul lingkar firasat hatiku, yang mengerti betul seberapa banyak
kata-kata menjelma karya-karya, dari mulut dan lakuku.

aku sudah bosan dengan topeng, kawan.

biarkan aku bernyanyi dengan sesuara sumbang, asalkan itu nada2ku sendiri.

kuceritakan juga kepadamu akhirnya bahwa aku berdoa dengan tergesa
dalam setiap sholatku yang tertunda itu, bahwa aku meminta Dia
mengajarkan kepadaku apa-apa seperti adanya. Dunia yang penuh
warna-warna, juga pemahaman kita yang penuh dinamika, mungkin aku, kau,
tak sama, iya kan, kawan?

lalu kuceritakan juga padamu, dalam setiap tahajudku yang terlelap
itu, aku menangisinya dengan dhuha, lalu apakah kita harus sepakat
untuk setiap warna-warna pelangi di pagi harinya? bagaimana jika kurasa
jingga lebih pekat dari merah tua? bisa saja kan, kawan?

lalu aku bercerita lagi, pada setiap malam yang dingin dan suram
itu, aku cuma berkata “belum pak, ini juga lagi buru2 mau isya” untuk
setiap tanya dari muka ramah luar biasa tetangga2 kita, lantas kenapa?
aku sudah bosan dengan topeng pura-pura, biar saja, biar nyana

apa masih harus juga aku bercerita, untuk setiap laku dan kerja yang
selalu anonim, dan untuk setiap amal yang selalu lupa, apa masih juga
harus berdebat riya dan tiada riya?

lalu untuk semua anggukan kepala kita setelah membaca lembar kuning
buku2 tua, atau membaca kebijakan orang2 tua, atau membaca takdir tiap2
apa, apakah harus sama?

biarkan aku bernyanyi dengan sesuara sumbang asalkan itu dengan nada2ku sendiri.

Subuh tadi aku berdoa pelan dalam rukukku yang terlambat lagi

“Tuhan, ajarkan aku ilmumu yang tak berbatas, yang tak bernama”

(sejak kapan Dia menciptakan ilmu tersekat-sekat, kawan?
kebenaran itu cuma milik Dia, bukan aku, kamu, kita, atau siapa saja)

Tentang masa kecil (2)

Mother_child_720

Bagaimana
mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu? Waktu ingat-ingat lagi tentang
kejadian ini, aku Cuma bisa mengelus dada, dan berdoa, betapa memang
tidak akan terbalas jasa kedua orang tua kita, apalagi ibu….ibu……ibu…

Saat-saat
akhir menjelang kelulusan sma mungkin adalah saat paling mendebarkan
dalam keseluruhan sejarah panjang hidupku. Ini mungkin apa yang orang
biasa sebut dengan titik balik.

Campur
aduk perasaanku waktu itu, hasrat untuk kuliah yang menggebu-gebu,
campur takut yang luar biasa besar, kira-kira apa aku nanti bisa
menjebol SPMB? Apa bisa masuk universitas yang baik? Dan ini yang
paling pokok “apa ada biaya untuk kuliah nanti?”

Bapak
adalah seorang PNS golongan menengah kebawah. Gaji bapak bisa ditebak
lah, kira-kira sama dengan standar PNS golongan sekian. Ibu hanyalah
seorang ibu rumah tangga, yang tentu saja tidak berpenghasilan. Ekonomi
keluarga, murni, hanya disokong dengan gaji dari Bapak, tidak ada
pemasukan lain….sama…..sekali.

Suatu
hari, Bapak mengajakku berbincang-bincang, pembicaraan antar anak dan
ayah, antar laki-laki dan laki-laki. This is a very much straight
forward conversation, padahal Bapak biasanya adalah orang yang selalu
berbicara dengan metafor-metafor.

Inti
pembicaraan itu adalah bahwa menilai kondisi ekonomi keluarga saat ini
Bapak merasa tidak akan sanggup untuk membiayai kuliahku, seandainya
pun sanggup, besar kekhawatiran Bapak bahwa kuliahku nanti tidak akan
sampai ke akhirnya, karna alasan klasik, biaya.

Aku protes………aku berontak, euphoria semangat muda ku menafikan realitas, “ini mimpi pak”, ujarku.

Dan
mimpi tentang kesuksesan itu bagiku adalah kuliah di Jawa, di
universitas ternama, itu gengsi yang lebih dari segala-gala bagiku saat
itu (ah…betapa waktu itu aku masih sangat muda).

Hari-hari
menemui jalan buntu, dead lock, aku bersikeras dengan segala mimpi dan
euphoria “apa yang aku pikir dengan cita-cita mulia”, dan Bapak tetap
dengan pendiriannya bahwa realita mengalahkan segalanya.

Tegang, panas, suasana rumah jadi kaku. Di tengah-tengah keadaan itu yang menyejukkan hatiku adalah ibu, selalu ibu.

“tidak
satupun orang tua itu yang tidak mau anaknya maju, mas” begitu kata
ibu, “Cuma kalau kondisi tidak memungkinkan apa mau dikata”

Ibu memang bukan orator, kalimatnya tidak retoris, tapi selalu membuat aku luluh, aku tidak pernah bisa menentang ibu

egoku
hancur luluh, aku sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya aku mulai
sedikit bisa mengerti realita yang sejak dulu Bapak cerita, baiklah Bu,
mungkin kuliah di Jawa bukanlah segalanya, aku siap dengan segala
kemungkinan terburuk untuk kuliah di Bengkulu saja atau tidak kuliah sama sekali juga aku rela.

Tapi ternyata ibu memang luar biasa.

Suatu
hari di bulan ramadhan ibu membeli belanjaan lebih banyak dari
biasanya, aku heran, “ada apa ini?” ternyata ibu berniat membantu
ekonomi keluarga, dan menyokong apa yang tadi aku sebut-sebut dengan
cita2.

Tak
habis pikir aku, ibu adalah seorang yang pemalu, luar biasa pemalu,
bagaimana mungkin Ibu mau menyingsingkan lengan bajunya untuk
berkeringat dan bangun pagi buta, membuat kue sampai fajar menyingsing,
dan nantinya dijual di pasar dekat rumah atau dibawa berkeliling
komplek.

Aku terdiam, apakah aku terlalu memberatkan mereka?

Hari
pertama itu, aku yakin hari yang sangat berat bagi ibu, seorang pemalu
yang berasal dari keluarga yang berkecukupan akan menjajakan dagangan
untuk menyambung cita-cita anak tertuanya. Aku tak bisa berkata apa2,
sungguh.

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu?

Waktu
aku melihat ibu pulang tergesa sore itu dengan membawa dagangan yang
tidak habis sama sekali dan sembab merah di pelupuk matanya, aku yakin
aku melihat syurga.

Keranjang dagangan ibu jatuh berceceran di tikungan jalan itu, di hari pertama ibu memutuskan berdagang, untukku.

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu?

dari negri seribu kupu-kupu

396306449_a36c1d2af9

assalamualaikum

teruntuk sahabat tercinta,

ini surat dari negri seribu kupu-kupu,

kami cuma bisa memandangmu sambil tersenyum, untuk seribu luka di tubuhmu yang kami bisa rasa tapi tak bisa kami seka.

senyum kami untuk setiap detik perjuangan di harimu, dengan sepanggul besar beban di pundakmu yang kami bisa lihat tapi tak bisa kami angkat.

selalu kami tersenyum untuk hati seluas samudera yang dianugerahkan kepadamu, yang mengizinkan kami sejenak masuk dan berbagi cerita, tentang suka duka, tentang cita-cita, juga tentang setia.

sungguh, ini senyum kami tanam dalam-dalam, dalam diam.

lalu kami menghela nafas sejenak,

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

dari setiap pagi yang datang dengan tergesa itu, kami telah menyiapkan bangku untukmu, lalu sabar menunggu di sengat surya siang perkasa hingga malam-malam gulita.

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

kami tidak berkemas hingga pagi tiba lagi, karna kami menanti, karna kami berjanji, karna kami tepati. Seperti yakin sekali dengan firasat hati, bahwa suatu nanti kau sudi mengunjungi.

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

dengan sayap-sayap kami yang rapuh ini, izinkan kami untuk sejenak menemanimu terbang, setiap beban dan luka di pundakmu biar kami angkat, biar kami seka.

tapi biar saja dalam diam, dalam cinta….

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

untukmu,

dari negri seribu kupu-kupu