Archive for December 3rd, 2007

yang tak berbatas, tak bernama

431489428_449b249a3a

seperti pagi-pagi yang biasa, kita terbangun menggeliat, lalu
berjalan-jalan menikmati hari yang seperti bernyanyi untuk kita sendiri.

matahari bagaimanapun juga tetap bersinar, meski tidak setiap kita bisa merasa hangat, begitupun juga aku.

kepada kawan yang tahu betul seluk-beluk keseharianku, yang mengerti
betul lingkar firasat hatiku, yang mengerti betul seberapa banyak
kata-kata menjelma karya-karya, dari mulut dan lakuku.

aku sudah bosan dengan topeng, kawan.

biarkan aku bernyanyi dengan sesuara sumbang, asalkan itu nada2ku sendiri.

kuceritakan juga kepadamu akhirnya bahwa aku berdoa dengan tergesa
dalam setiap sholatku yang tertunda itu, bahwa aku meminta Dia
mengajarkan kepadaku apa-apa seperti adanya. Dunia yang penuh
warna-warna, juga pemahaman kita yang penuh dinamika, mungkin aku, kau,
tak sama, iya kan, kawan?

lalu kuceritakan juga padamu, dalam setiap tahajudku yang terlelap
itu, aku menangisinya dengan dhuha, lalu apakah kita harus sepakat
untuk setiap warna-warna pelangi di pagi harinya? bagaimana jika kurasa
jingga lebih pekat dari merah tua? bisa saja kan, kawan?

lalu aku bercerita lagi, pada setiap malam yang dingin dan suram
itu, aku cuma berkata “belum pak, ini juga lagi buru2 mau isya” untuk
setiap tanya dari muka ramah luar biasa tetangga2 kita, lantas kenapa?
aku sudah bosan dengan topeng pura-pura, biar saja, biar nyana

apa masih harus juga aku bercerita, untuk setiap laku dan kerja yang
selalu anonim, dan untuk setiap amal yang selalu lupa, apa masih juga
harus berdebat riya dan tiada riya?

lalu untuk semua anggukan kepala kita setelah membaca lembar kuning
buku2 tua, atau membaca kebijakan orang2 tua, atau membaca takdir tiap2
apa, apakah harus sama?

biarkan aku bernyanyi dengan sesuara sumbang asalkan itu dengan nada2ku sendiri.

Subuh tadi aku berdoa pelan dalam rukukku yang terlambat lagi

“Tuhan, ajarkan aku ilmumu yang tak berbatas, yang tak bernama”

(sejak kapan Dia menciptakan ilmu tersekat-sekat, kawan?
kebenaran itu cuma milik Dia, bukan aku, kamu, kita, atau siapa saja)

Tentang masa kecil (2)

Mother_child_720

Bagaimana
mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu? Waktu ingat-ingat lagi tentang
kejadian ini, aku Cuma bisa mengelus dada, dan berdoa, betapa memang
tidak akan terbalas jasa kedua orang tua kita, apalagi ibu….ibu……ibu…

Saat-saat
akhir menjelang kelulusan sma mungkin adalah saat paling mendebarkan
dalam keseluruhan sejarah panjang hidupku. Ini mungkin apa yang orang
biasa sebut dengan titik balik.

Campur
aduk perasaanku waktu itu, hasrat untuk kuliah yang menggebu-gebu,
campur takut yang luar biasa besar, kira-kira apa aku nanti bisa
menjebol SPMB? Apa bisa masuk universitas yang baik? Dan ini yang
paling pokok “apa ada biaya untuk kuliah nanti?”

Bapak
adalah seorang PNS golongan menengah kebawah. Gaji bapak bisa ditebak
lah, kira-kira sama dengan standar PNS golongan sekian. Ibu hanyalah
seorang ibu rumah tangga, yang tentu saja tidak berpenghasilan. Ekonomi
keluarga, murni, hanya disokong dengan gaji dari Bapak, tidak ada
pemasukan lain….sama…..sekali.

Suatu
hari, Bapak mengajakku berbincang-bincang, pembicaraan antar anak dan
ayah, antar laki-laki dan laki-laki. This is a very much straight
forward conversation, padahal Bapak biasanya adalah orang yang selalu
berbicara dengan metafor-metafor.

Inti
pembicaraan itu adalah bahwa menilai kondisi ekonomi keluarga saat ini
Bapak merasa tidak akan sanggup untuk membiayai kuliahku, seandainya
pun sanggup, besar kekhawatiran Bapak bahwa kuliahku nanti tidak akan
sampai ke akhirnya, karna alasan klasik, biaya.

Aku protes………aku berontak, euphoria semangat muda ku menafikan realitas, “ini mimpi pak”, ujarku.

Dan
mimpi tentang kesuksesan itu bagiku adalah kuliah di Jawa, di
universitas ternama, itu gengsi yang lebih dari segala-gala bagiku saat
itu (ah…betapa waktu itu aku masih sangat muda).

Hari-hari
menemui jalan buntu, dead lock, aku bersikeras dengan segala mimpi dan
euphoria “apa yang aku pikir dengan cita-cita mulia”, dan Bapak tetap
dengan pendiriannya bahwa realita mengalahkan segalanya.

Tegang, panas, suasana rumah jadi kaku. Di tengah-tengah keadaan itu yang menyejukkan hatiku adalah ibu, selalu ibu.

“tidak
satupun orang tua itu yang tidak mau anaknya maju, mas” begitu kata
ibu, “Cuma kalau kondisi tidak memungkinkan apa mau dikata”

Ibu memang bukan orator, kalimatnya tidak retoris, tapi selalu membuat aku luluh, aku tidak pernah bisa menentang ibu

egoku
hancur luluh, aku sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya aku mulai
sedikit bisa mengerti realita yang sejak dulu Bapak cerita, baiklah Bu,
mungkin kuliah di Jawa bukanlah segalanya, aku siap dengan segala
kemungkinan terburuk untuk kuliah di Bengkulu saja atau tidak kuliah sama sekali juga aku rela.

Tapi ternyata ibu memang luar biasa.

Suatu
hari di bulan ramadhan ibu membeli belanjaan lebih banyak dari
biasanya, aku heran, “ada apa ini?” ternyata ibu berniat membantu
ekonomi keluarga, dan menyokong apa yang tadi aku sebut-sebut dengan
cita2.

Tak
habis pikir aku, ibu adalah seorang yang pemalu, luar biasa pemalu,
bagaimana mungkin Ibu mau menyingsingkan lengan bajunya untuk
berkeringat dan bangun pagi buta, membuat kue sampai fajar menyingsing,
dan nantinya dijual di pasar dekat rumah atau dibawa berkeliling
komplek.

Aku terdiam, apakah aku terlalu memberatkan mereka?

Hari
pertama itu, aku yakin hari yang sangat berat bagi ibu, seorang pemalu
yang berasal dari keluarga yang berkecukupan akan menjajakan dagangan
untuk menyambung cita-cita anak tertuanya. Aku tak bisa berkata apa2,
sungguh.

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu?

Waktu
aku melihat ibu pulang tergesa sore itu dengan membawa dagangan yang
tidak habis sama sekali dan sembab merah di pelupuk matanya, aku yakin
aku melihat syurga.

Keranjang dagangan ibu jatuh berceceran di tikungan jalan itu, di hari pertama ibu memutuskan berdagang, untukku.

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu?