Archive for January 27th, 2008

restart

Treefullmoon

Teman, sering kali waktu cerita hidupku ini sedang tak bisa aku raba dan cari tahu kemana arah larinya, atau juga saat-saat dimana semua babak terasa tiba-tiba begitu menjemukan dan seperti bergulir tanpa seni, aku merasa bahwa aku harus “Re-Start”.

Waktu rembulan sudah terlihat seperti biasa-biasa saja, atau bebintang malam seperti kurang gemerlap, waktu itulah aku bergeser pelan dari dudukku, lalu berjalan berapa jauh langkah untuk melihatnya dari belah bukit yang lain, atau dari sela-sela jejurang, atau dari pematang-pematang.

Kita seringkali sama-sama bosan dan jenuh, bahwa drama kehidupan kita ini, teman, berjalan dengan babak-babak yang selalu bisa kita tebak, atau jika episodenya baru maka pastilah membuat kita seperti lupa naskah, di babak mana kita harus terhenyak? dan dibabak mana pula kita harus pulang? Tapi kita lupa pula jalan pulang? Iya kan?!!

Mari kita sama-sama berdoa, menundukkan sejenak kepala, pundak, lutut, kaki, mata, hati kita, lalu meminta sebenar-benarnya.

Besok pagi kita jalan sama-sama, barang selangkah, dua, tiga atau beberapa, sampai kita lihat dunia dari sudut yang berbeda.

Hingga belum pernah hari kita seindah menaiki bus siang-siang dipanggang mentari terik-terik.

Belum pernah seindah belajar di kampus sepenat-penat, hingga senja hampir lewat.

Belum pernah seindah kerja sesuntuk-suntuk di kantor-kantor hiruk pikuk.

Belum pernah seindah sendiri menyambut hari yang seperti kemarin-kemarin lagi.

Belum pernah seindah memandang bulan dari sudut rumah tenang, ada kunang-kunang terbang di kiri dan kanan kita, lalu gemerlap bebintang muncul redup muncul redup dari angkasa sana.

Alhamdulillah.

mengubur masa lalu

Masa_lalu

Setiap detik aku bergulat dengan waktu dan menjadi gelap dibawah bayang-bayang masa lalu.

Dari setiap bercak-bercak kotor dosa yang membekas hitam di setiap lembar waktu yang telah terlewat itu, aku jadi malu sendiri, lalu beringsut dari kumpulan mereka-mereka yang bersih putih itu. Rasa-rasanya syurga meski diemperannya saja tetap tak layak buatku.

Kutarik nafas pelan di setiap senja-senja yang tenang dan ramah itu, dari warna merah tembaga yang terpapar di laut yang beriak manis di ujung sana aku bercermin dan merenung, sudah satu hari lagi lembar hidup yang kujalani dengan tergesa, membuka pagi dengan terkejut luar biasa, lalu menyongsong sore dengan belum berbuat apa-apa.

Ah….. Tuhan, rasanya dunia ini dalam segala-gala lebih bersih dari kami.

Dengan apa kubersihkan sisa luka dosa yang menganga?

Terhuyung-huyung aku berlari, lalu berwudhu dengan apa saja, air, debu, angin, tawa dan air mata.

kita semakin sulit tertawa

200208_laugh

Seringkali, saat sedang nonton tv bersama para kru, atau sedang berbincang-bincang ringan, aku mengamati hal-hal yang membuat mereka tertawa. Misalnya tontonan tv.

Pada mulanya, aku mengira bahwa orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang selera humornya rendah, maksudku mereka itu gampang sekali tertawa oleh tontonan yang ga lucu menurutku.

Semisal ada acara tv yang memperlihatkan orang jatuh karna terpeleset kulit pisang, maka kontan mereka semua akan tertawa. Padahal itu menurutku tidak lucu. Semisal lagi saat ada seorang dari mereka ada yang sedang mancing dan umpannya habis, mereka tertawa, padahal itu kan tidak lucu juga.

Hipotesa awalku adalah bahwa tingkat rasa humor seseorang mungkin akan semakin berubah seiring dengan perkembangan tingkat pendidikannya. Kita mungkin akan tertawa jika melihat guyonan cerdas semisal acara republik mimpi di metro tv atau guyonan kick andy, tapi mereka akan tertawa pada hal-hal yang sangat sederhana.

Tapi, semakin kesini aku semakin berubah pikiran. Kulihat bahwa cara mereka tertawa, dan sebab mereka tertawa, itu juga ada korelasi dengan cara mereka menilai dan menghadapi hidup.

Mereka-mereka itu menikmati hidup ini dengan santai dan luar biasa ceria. Sesederhana mereka tertawa karna hal-hal yang remeh temeh itu. Bangun pagi dan melihat laut beriak, mereka tersenyum dan tertawa, “wah…banyak ikannya pasti pagi ini” kata mereka. Sedang kita bangun pagi lalu menjalani rutinitas biasa dan tidak tertawa pada apapun, kecuali dosen kita mengeluarkan guyonan cerdas tingkat tinggi tentang Einstein atau bos kita mengeluarkan guyonan tentang naik gaji.
Mereka menghadapi siang terik yang panas ga karu-karuan dengan tertawa karna melihat temannya mandi keringat, “mirip kuda nil” kata mereka tanpa niat mengejek. Dan kita menghadapi siang dengan mengeluh akan ozon yang semakin menipis, kita baru tertawa jika ada lelucon cerdas tentang pemanasan global.

Kenapa ya, kita semakin sulit tertawa menghadapi hidup ini. Jangan-jangan kita mulai lupa bagaimana menikmati hidup.

Aku permisi sebentar ya, rasa-rasanya aku ingin tertawa karna koneksi internet yang lama ini, haha…..

Kamu tertawa juga ya??

Engkau pasti masih tersenyum hingga kini

Walkinthewood

Kami berlindung kepadamu dari saat-saat dimana kami sedang tidak ingat, dari waktu-waktu dimana hati ini terbalik serendah-rendahnya. Jadikan doa disaat ingat seperti ini jadi penjaga diwaktu lupa, diwaktu khilaf se khilaf-khilafnya.

Hari ini biarkan hidup kami jadi berarti, ajarkan kami untuk selalu bersyukur atas setiap hirup nafas, atas setiap terpa mentari yang membelai-belai hangat kulit kami, atas setiap tetes keringat yang terkucur siang nanti untuk sebuah rezeki yang telah kauhamparkan berhamburan tak alang kepalang banyaknya di dunia ini. Lalu jadikan sore nanti kami merasa cukup atas setiap yang tergenggam di telapak tangan. Jadikan mimpi kami nanti malam adalah cita-cita mulia yang baik, yang bersujud dalam-dalam atas anugrahmu.

ini cita ya Rabb, jangan jadikan keinginan tumbuh dan berkembang kami ini seperti kufur atas setiap hari-hari yang masih kau biarkan bergulir.

Esok harinya biarkan kami mulai pagi dengan senyum, sambil menyapa semua yang tak seberuntung kami, lalu membagikan sedikit dari apa yang kami genggam kemarin sore. Jadikan kami sepelupa-pelupanya, biar kami tak mengingatnya dalam setiap rukuk sujud rukuk sujud kami, entah siang sore atau malam hari nanti.

Dan hari-hari yang terus datang esok itu ya Rabb, kuatkan tapak kami untuk menjejak ke tanah, biar kami tetap terpa semisal badai datang menerjang atau semisal kerikil terserak-serak. Anugerahkan saja kepada kami teman setia semanis madu bunga, biar tak terasa apa-apa yang menghadang di jalan sejauh pandang, lalu kami bersyukur untuk telah Kau anugerahkan dia padaku dan untuk dia dianugerahkan aku padanya.

Nanti pada waktu kami terjerembab tersungkur dan jatuh berkali-kali, biarkan kami ingat senyumMu waktu pagi, siang, sore dan malam dulu-dulu itu. Lalu kami berjanji berjalan lagi.

Engkau pasti masih tersenyum hingga kini.

dari waktu suatu seketika

MerenungkehidupanSeketika itu juga kita merasa ciut, iya kan kawan?

Dengan banyak sekali bercak noda di halaman lembar-lembar kemarin dulu itu, kita malu sejadi-jadi waktu bertemu orang seputih-putih mereka itu.

Dengan ilmu yang tak seberapa ini, rasanya tiap orang seperti guru saja buat kita, untuk selalu belajar apa saja, bercermin apa saja. Sungguh, nyata-nyata kita tak banyak tahu apa-apa.

Merangkak-rangkak kita berjalan dengan nafas yang sepenggal-penggal ini, setidaknya biar berarti walau cuma sekali.

Dari waktu suatu seketika, dibalik senja merah tembaga.

“Permisi….kami punya ilmu cuma sebelanga!”

cermin

Alone

Apa kabar orang tua kita? Semakin  hari semakin renta semakin bingung juga kita, bagaimana meringankan sedikit saja beban luar biasa dipundak mereka yang semakin ringkih itu?

Apa kabar adik2 cerdas luar biasa? Semakin hari kita semakin cepat berlari meninggalkan mereka di belakang sana, yang sambil memegang erat boneka atau dot susunya, mereka pikir dunia ini gampang2 saja, toh masih ada kakaknya, yang padahal sekarang sudah makin dewasa makin beda dunia.

Apa kabar semangat membara? Menyala-nyala atau makin merenta? Redup teratur jadi arang legam hitam kelam?

Masih bertegur sapakah kita dengan teman2 disana? mereka masih terseok meraba-raba, kira-kira apa bisa untuk keluar dari lubang jarum ujian demi ujian yang mungkin sama seperti kita? sedang kita sibuk luar biasa, bahkan untuk sekedar ber “apa kabarmu hari ini teman?” lalu bercerita bahwa untuk teman-teman terbaik seperti mereka “selalu masih ada cinta”.

Lalu untuk sebuah nama yang kita perjuangkan mati-matian hingga tua, sudahkah terukir dengan jelas di pigura?

‘selamat, untuk telah sukses luar biasa tanpa mengajak siapa-siapa’