restart
Teman, sering kali waktu cerita hidupku ini sedang tak bisa aku raba dan cari tahu kemana arah larinya, atau juga saat-saat dimana semua babak terasa tiba-tiba begitu menjemukan dan seperti bergulir tanpa seni, aku merasa bahwa aku harus “Re-Start”.
Waktu rembulan sudah terlihat seperti biasa-biasa saja, atau bebintang malam seperti kurang gemerlap, waktu itulah aku bergeser pelan dari dudukku, lalu berjalan berapa jauh langkah untuk melihatnya dari belah bukit yang lain, atau dari sela-sela jejurang, atau dari pematang-pematang.
Kita seringkali sama-sama bosan dan jenuh, bahwa drama kehidupan kita ini, teman, berjalan dengan babak-babak yang selalu bisa kita tebak, atau jika episodenya baru maka pastilah membuat kita seperti lupa naskah, di babak mana kita harus terhenyak? dan dibabak mana pula kita harus pulang? Tapi kita lupa pula jalan pulang? Iya kan?!!
Mari kita sama-sama berdoa, menundukkan sejenak kepala, pundak, lutut, kaki, mata, hati kita, lalu meminta sebenar-benarnya.
Besok pagi kita jalan sama-sama, barang selangkah, dua, tiga atau beberapa, sampai kita lihat dunia dari sudut yang berbeda.
Hingga belum pernah hari kita seindah menaiki bus siang-siang dipanggang mentari terik-terik.
Belum pernah seindah belajar di kampus sepenat-penat, hingga senja hampir lewat.
Belum pernah seindah kerja sesuntuk-suntuk di kantor-kantor hiruk pikuk.
Belum pernah seindah sendiri menyambut hari yang seperti kemarin-kemarin lagi.
Belum pernah seindah memandang bulan dari sudut rumah tenang, ada kunang-kunang terbang di kiri dan kanan kita, lalu gemerlap bebintang muncul redup muncul redup dari angkasa sana.
Alhamdulillah.
Comments(3)




