mungkin ini rindu
Senja masih putih, masih bersih.Semburat merah yang biasa itu masih
ragu-ragu menimbang-nimbang, kiranya akan tertunda atau muncul lebih
mula.
Nostalgi-ku waktu itu bergerak seperti kapal nelayan kecil di ujung
sana. Tenang menyusur tempias ombak menuju tepian memori redup-redup.
Hari sepertinya belum pernah setenang ini, awan-awan putih bersinar
terang di pinggir-pinggirnya, lalu berarak tenang seperti bergerak
seperti diam.
Tiba-tiba aku merasa asing, rasa-rasanya aku ingin meloncat, dan
berlari meniti hampar laut. Ingin kuceritakan pada bunda di belah dunia
sana, bahwa betapa anaknya saat ini mengembara di negri-negri yang
entah dimana.
Rasa-rasanya ingin melompat aku menangkap camar-camar hitam putih
itu, lalu kulayangkan pada adik-adikku, kupesankan untuk bercerita
bahwa kakaknya telah menempuh perjalanan separuh dunia.
Mungkin ini, rindu dalam sastra-sastra para pujangga, waktu
tiba-tiba hatimu merasakan luasnya dunia dari sudut cakrawala, tapi tak
tahu harus bercerita pada siapa.
Seperti waktu kailmu mengena ikan besar di laut kehidupan itu, tapi
tak jua kau tarik, karna tiba-tiba hatimu bertanya “dengan siapa aku
memakannya?”
Mungkin ini, rindu dari senandung syair negri-negri jauh, waktu
senja tiba-tiba terasa begitu putih dan kau berlari diatas hampar ombak
naik-turun-naik-turun, sembari menggenggam burung-burung camar, lalu
menatap di kejauhan sana ada seorang putri.
Comments(2)



