dari tepuk tangan paling kencang
Tidak begitu banyak aku mengetahui
nama-nama penyair besar negri ini, dari sekian banyak itu aku hanya
tahu segelintir saja, dari yang segelintir itu hanya beberapa saja yang
aku pernah baca lebih dari satu karyanya.
Kebanyakan aku mengenal mereka hanya dari potongan-potongan karya
mereka yang sangat terkenal seperti puisi “aku ingin mencintaimu dengan
sederhana” karya pak sapardi.
Salah seorang penyair indonesia yang aku kagumi adalah mbak helvy
tiana rosa. Sama seperti kebanyakan penyair lain yang aku tahu, aku
juga tidak sempat membaca banyak karya dari beliau ini, beberapa
karyanya yang pernah aku baca seperti “lelaki kabut dan boneka” juga
tidak aku baca hingga selesai, dan sebagian karya lainnya yang juga
pernah aku baca, malah aku sudah tidak ingat lagi sekarang.
Jauh dari kapasitas seorang kritikus sastra aku ini, makanya sulit
buatku untuk menilai kapasitas kepenyairan seorang helvy tiana rosa,
kalau boleh jujur, dari segelintir karyanya yang aku pernah baca itu,
tidak pula karya itu sempat menohok batinku dalam-dalam, rasanya biasa
saja, kalaulah tidak aku katakan bahwa sebagian tidak aku mengerti,
karna memang beliau ini punya sasaran pembaca yang jauh dari level
seperti aku, mungkin.
Hal yang membuat aku mengagumi seorang mbak helvy adalah perjuangan
keras dia untuk mengangkat ranah seni islami (yaitu cerpen, kebanyakan)
hingga mendapat perhatian dari banyak kalangan (kalangan sastra, dan
bahkan kalangan islam itu sendiri).
Karya sastra islam, dulu itu sangat marginal. Siapa yang mau
berkeringat untuk mengusahakan penerbitan cerpen atau mengurusi
sastra-sastra semacam puisi dan lain-lain? Nyaris tidak ada, sebagian
orang menganggap itu hal mubazir dan membuang waktu, sebagian yang lain
mungkin lebih ekstrim mengangap itu thaghut. Sebagian yang lain
menghabiskan waktunya dengan merenung, kapan bisa bangkit kesempatan
kita untuk menampilkan wajah seni islam itu dengan lebih manis dan
tanpa ribut sana ribut sini?
Aku termasuk golongan yang terakhir itu, yang menghabiskan hari
dengan merenung dan segala teori tentang kenapa sastra kita tidak bisa
mendunia, lalu berteori lagi tentang bagaimana meledakkan semua potensi
kita dalam sastra, siapa yang akan memberikan perhatiannya terhadap
sastra?? Mbak helvy, untungnya juga temasuk dalam golongan yang ketiga
itu, tapi beliau tidak berhenti sebatas merenung, beliau bermimpi yang
lebih besar dari orang2 sepertiku, dan beliau bergerak mewujudkannya.
FLP (lembaga kepenulisan yang beliau bentuk itu), sekarang sudah
menggurita dan jadi besar luar biasa, sastra islam sekarang sudah jadi
hal yang bahkan tidak asing untuk remaja-remaja modern dan ngegaul
sana-sini. Mimpi mbak helvy sekarang sudah jadi, dan beliau pasti masih
sedang bermimpi lain lagi, dan bergerak lagi.
Tak pernah habis kekagumanku untuk orang-orang seperti mereka, darimana mereka petik semangat menggelora tak kira-kira itu?
Jadi mbak, meski aku jarang sekali membaca karyamu, tapi aku
sepertinya resapi juga puisi-puisi perjuangan kalian-kalian itu, lalu
di barisan penonton yang membludak ini, aku di sudut sana adalah yang
bertepuk tangan paling kencang.