janji wisudawan

 

Ada rasa haru yang dalam saat mengenakan toga dan topi segilima
waktu wisuda itu.Sebenarnya terlihat lucu, pakaian toga itu, dan segala
asesorisnya, tapi biarlah aku berkhusnudzon saja bahwa segala hal itu
adalah mewakili makna makna tertentu, segilima mewakili sesuatu dan
juga jubah seperti penyihir itu mewakili sesuatu.

Saat orang tuaku hadir setelah menempuh perjalanan 24 jam bengkulu
bandung, dalam sebuah bus yang penuh, dengan membawa bekal uang
seadanya, ada perih menyayat dalam hati.

Pada malam harinya aku merenung dalam, inilah rupa-rupanya kenapa
kebijakan universal dari dulu itu mewajibkan kita untuk sedalam
dalamnya hormat pada kedua orang tua kita.

Tetes peluh keringat dan airmata mereka tidak bisa kita kumpulkan dan analisa statistiknya.

Doa-doa malam mereka masih jauh dari nalar kita, tentang bagaimana
suara hati mereka itu lalu menjelma nada2 hening dalam malam2 sunyi
senyap, lalu sampai pada kita nun disebrang lautan sana.

Untuk membantu kita menepis kantuk tengah malam demi beberapa lembar skripsi,
untuk membantu kita bertahan dari setiap lelah tak berujung sepulang kuliah kita,
untuk mendekap hangat ringkuk kita waktu kita benar-benar sendiri,
dan menopang kaki-kaki rapuh kita dalam perjalanan luar biasa panjang
ini hingga kita merasa cukup tegar untuk tetap berdiri dan berjalan
lagi…….. berjalan lagi……….. berjalan lagi.

Mengingat raut wajah mereka saja sudah menyulut bara dalam setiap
renung kita, lalu kita berjanji sepenuh hati, bahwa segala kebodohan
kita waktu masih sekolah dulu adalah masa lalu yang sekuat tenaga akan
kita rubah,
segala bantah-membantah kita waktu masih kecil dulu adalah
ketidakmatangan yang sepenuh hati kita akan gantikan dengan
pengertian-pengertian.

Linang air mata bangga mereka hari wisuda itu mematri janji dalam hati paling dalam.

“bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa, dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita”.



No Comment

No comments yet

Leave a Reply