kita dikelilingi orang-orang besar (5)
Sungguh, sesulit apapun masalah dan ujian yang kita hadapi. Seberapa
membelit-belitnya perasaan yang kita alami, jikalah kita mau
menyempatkan diri untuk sebentar menengok kiri kanan, maka akan kita
dapati bahwa beribu-ribu orang di sekitar kita memiliki masalah yang
luar biasa pelik dan membuat kita malu untuk telah menganggap sentilan
kecil dalam lika-liku panjang kita ini sebagai masalah.
Pak win…..
Begitu orang biasa memanggilnya.
Beliau ini adalah seorang tentara, kalau tidak salah, seingatku Pak win
adalah seorang kopassus. Tapi jauh sekali dari gambaran kopassus yang
terekam di benak kita. Pak win sudah tua. Tua sekali. Tapi meskipun
tua, pak win tidak pernah kurang rasa humornya, dan selalu menganggap
semua orang yang lebih muda dari beliau sebagai orang yang lebih
terpelajar.
Pak win ditugaskan sebagai security pada sebuah fasilitas ground
control (waste management, fasilitas pengolahan limbah hasil pemboran
minyak lepas pantai, tempat dimana aku terkadang ditugaskan bekerja).
Hari ke hari mengenal seorang Pak Win, aku semakin kagum.
Beliau bertugas di kalimantan timur, padahal rumahnya adalah di jawa.
Dan tahukah kamu kawan, seberapa lama dia harus bertugas??? dia sudah
bertugas lebih dari dua tahun dengan jadwal kerja 3 bulan satu minggu.
Artinya dia wajib bekerja selama tiga bulan dan setelah itu dapat
liburan satu minggu untuk pulang ke jawa. Tentu saja itu adalah di atas
kertas, jadwal sebenarnya adalah terus bekerja tanpa tahu kapan dia
berhenti dan tanpa tahu kapan dia bisa bertemu keluarga.
Entah ketegaran sekeras intan atau keterpaksaan yang merantai
membuat dia sanggup menjalani jadwal semacam ini. Sudah coba
kutimbang-timbang, dan coba2 kurasa-rasa, bagaimana jika aku menjadi
Pak Win????
Wah….. bisa mampus aku, apa rasanya 3 bulan bekerja di negri orang, dan
tak bisa ketemu keluarga?? lalu libur yang hanya satu minggu itu pula
terkadang dikebiri, dipotong, habis seperti arang binasa…… tapi
kesabaran itu menjelma jadi wujud seorang bapak tua mantan kopassus
yang senang mancing pagi2 dan sore2, lalu bercanda dengan para
karyawan2 yang lebih muda2 dan terpelajar2, lalu mengajarkan tawa dan
arti hidup pada kita, seperti apa yang namanya “tegar” itu, lalu
menghabiskan malamnya dengan sendiri lagi dengan sendiri lagi……..
sepi…….. senyap.
Lalu menyampaikan salamnya pada istri dan anak2 tercintanya dengan kiriman uang awal bulan…….
Lalu dengan setia melambaikan tangan kepada kami yang pulang pergi dari sana
” Mas rio… sampaikan salamku pada Jawa” katanya….
