pertanyaan ayam
kalaulah aku ini induk ayam, mungkin aku sudah menjadi induk yang
bingung. Pertanyaannya adalah, kapan kita harus mematuk anak2 kita?
tapi tentu saja kita bukan induk ayam, teman. Tapi untuk urusan mematuk rasa-rasanya kita harus tetap memikirkannya.
Terkadang, meskipun belum menikah, aku sering memikirkan seperti apa
kebijakan dan kebeningan mata hati yang harus aku punyai jika nanti
memiliki anak dan menimang-nimang kapan saatnya dia kita biarkan dewasa?
seringkali tanpa sadar kita itu seperti terlalu protektif, dengan
adik kita, dengan generasi bimbingan kita di kampus, dengan murid les,
atau dengan siapa saja.
Mungkin ini juga yang kadang2 bikin kita sering selisih paham dengan
orang tua yang seperti terlalu banyak mendikte kita -mungkin-, atau ini
juga yang bikin kita seringkali menganggap bahwa adik2 kelas kita di
masa ospek itu adalah generasi yang lebih cengeng -karna kita bisa
melalui “binaan” yang jauh lebih “mantap” dari mereka-.
Mungkin orangtua kita terlihat seperti banyak mendikte kita itu
karna rasa sayang yang luar biasa kepada anak-anaknya ini, sehingga
mereka belum percaya kalau kita ini sudah siap “dipatuk” dan dibiarkan
bermain lepas sendirian.
Atau mungkin juga kita yang memandang picing ke adik-adik kita yang
terlihat rapuh itu adalah kenyataan bahwa kita belum begitu bijak dan
“kebanyakan mematuk” mereka, padahal mungkin dunia sudah berbeda dan
tantangan sudah berbeda.
Ah…. bersyukur juga kita ini tidak dijelmakan menjadi induk ayam ya?
Pusing juga kalau kita ini benar-benar harus mematuk dalam kehidupan
dan arti kata yang sebenarnya.
Seperti suatu ketika, adikku nomer dua bercita-cita lucu. Dia ingin
beli sepatu, dengan segala retorika lucunya, dia berkoar bahwa sekarang
ini sudah tidak mode lagi jika anak smp jalan2 pake sendal, yang sedang
ngetrend itu jalan2 ya pake sepatu, katanya.
Aku hanya senyum2 sendiri, lalu dia berujar sendiri, “mulai saat
ini, aku bakal ngumpulin uang lebih banyak lagi”. Lalu tanpa kukira,
separuh perjalanan dari sekolah ke rumah (yang harus ditempuh dua kali
naik angkot itu), dia tempuh berjalan kaki.
Luar biasa, dia bisa menghemat lebih banyak uang dengan jalan konyol ini.
Aku tersenyum sendiri, sebenarnya lebih mudah jika kubelikan saja
sebagai hadiah, sebuah sepatu seperti yang dia mau. Tapi ada kekuatan
tekad dibalik semangat dia itu, teman.
Jadi aku biarkan saja dia menikmati perjuangannya.
Sampai suatu ketika dia pulang sekolah dengan sangat letih. Ini
tidak biasa, pikirku. Setahuku dia itu sangat enjoy dengan
perjuangannya itu, lalu kenapa hari ini mengeluh?
Usut punya usut ternyata itu hari senin, sembari berjalan kaki dan menghemat demi cita-cita itu, ternyata dia puasa senin kamis.
“sabar ya dek” aku membatin sendiri, semoga ini “patukan” yang benar, dengan timing yang benar.
rasa-rasanya ayam lebih pintar ya??

seperti tak ada lorong atau tempat buat ku merasakan kebahagian.
yang ada hanya kegelepan dan kesedihan yang mengililingi ku.