kita dikelilingi orang-orang besar (yang kesekian kalinya)
Hippocrates, beberapa ratus tahun yang lalu mengelompokkan watak manusia dalam empat tipe yang kawan2 pasti sudah paham betul.
Semisal seorang yang berjiwa kepemimpinan yang kuat dia namakan
sebagai tipe KOLERIS, atau pecinta seni yang perfeksionis kita sebut
sebagai MELANKOLIS, atau juga watak ceria SANGUINIS, atau lagi sang
PHLEGMATIS yang damai dan easy going. Kesemua sifat ini pastilah banyak
kita jumpa dalam hari-hari kita berinteraksi dengan teman-teman sebaya,
dengan adik-adik muda belia, atau dengan senior-senior paruh usia.
Kadang-kadang, kita bisa menjadi semacam psikolog, yang dengan
seenaknya gampang sekali mengelompokkan orang yang mana dalam kriteria
yang mana. Lantaran salah satu sifat diatas itu tadi mungkin terlampau
polos menyeruak di keseharian kenalan-kenalan kita itu, ah…. tak
dinyana, manusia yang selalu mendominasi itu, -teman kita itu-,
pastilah seorang KOLERIS sejati! atau juga semisal teman kita yang
selalu santai betul menghadapi semuanya, hampir-hampir seperti orang
tanpa ambisi, tak perlu lama, pastilah kita stempel PHLEGMATIS
besar-besar di keningnya.
Lalu aku berkelana ke masa-masa SMA dulu, teringat aku akan seorang
kawan yang sepertinya dilimpahi berkah dari langit. Nantinya para
psikolog harus membuat satu lagi klasifikasi untuk orang macam beliau
ini.
Bagaimana memberi nama seorang pemimpin besar yang bakatnya sudah
meluap-luap sejak kecil? pemimpin yang mengatur dengan memesona.
Perfeksionis yang santai dan berseni dalam semua-mua hidupnya.
Pembicara dan pendebat handal tak dinyana. Ekstrovert luar biasa untuk
menjadikan semua orang teman baiknya, disaat yang sama juga introvert
yang selalu berkontemplasi dan merenung sebelum segalanya.
Matematikawan yang pandai mendenting gitar. Agamis yang membumi. Orang
yang berorasi sehebat tulisannya. Orang yang diam sehebat berfikirnya.
Orang ini tipe macam apa?? pikirku.
Kalaulah setiap teman yang menginspirasi itu aku tuliskan dalam
selembar kertas, maka mungkin aku sudah menamatkan berpuluh-puluh judul
“kita dikelilingi orang-orang besar”.
Sedihnya aku, sering nian cerita orang-orang besar itu, -kawan2 yang menginspirasi kita itu-, tidaklah berakhir dengan kegemilangan yang “wah” semisal penaklukkan byzantium atau epik gajah mada.
Entah kenapa sejarah memainkan cerita klise yang paradoks.
Orang-orang dengan talenta besar haruslah diam dan mati sebelum
kecambahnya menjulang kekar sampai ke awan sampai keatasnya lagi! Teman
luar biasaku ini memainkan lakon anak brilian dari pojok pasar kumuh
yang harus mengajarkan lagi pada pembelajar-pembelajar hijau seperti
kita-kita tentang bagaimana itu harusnya bersabar, tepat seperti
bagaimana ia tersenyum waktu talenta sesamudera itu -mau dikata apa- haruslah padam seketika karna ekonomi keluarga.
Jikalah setiap teman-teman yang menginspirasi itu aku tuliskan dalam
selembar kertas, maka mungkin aku sudah menamatkan berpuluh-puluh judul
“kita dikelillingi orang-orang besar”. Untuk setiap teman-teman yang
tersenyum tegar menghadapi drama panjang pertarungan mimpi-mimpi besar
dan realita yang luar biasa tegas luar biasa keras.
HIPPOCRATES!! mereka itu tipe orang macam apa???
