Archive for October, 2008

pagi

Tuhan……..

Dalam sepi yang diam sehening-heningnya, kualirkan tangis yang lama penat menggumpal-gumpal dihati, telinga, mata dan kepala. Sungguh Tuhan, sepagi ini aku sudah berlari, mencari tempat untuk aku benamkan sujud ini dalam-dalam.

Payah aku menyibak kabut selagi hati ini masih temaram buram. Inilah kami duhai yang mengerti duhai yang maha, sepi ini menelusup ke ruas-ruas jari tangan kaki kami, hati ini terganjal tanya besar sekepala-kepala kami, tentang mengapa kami hidup jika suatu nanti kami mati? tentang seperti apa cerita hari depan kami nanti? tentang siapa gerangan pendamping jiwa penetram hati kami? susah aku berteriak sampai serak, wahai yang mendengar duhai yang maha.

Maka sepagi ini aku sudah berlari, mencari tempat untuk kubenamkan sujud ini dalam-dalam. Dalam sepi yang diam sehening-heningnya, kualirkan tangis yang lama penat menggumpal-gumpal dihati, telinga, mata dan kepala.

buku


Sambil duduk-duduk dalam sebuah senja yang santai, melepas pandang sejauh ufuk-ufukyang menyemburat jingga, aku berkelana jauh ke saat-saat dimana aku masih sangat sangat “muda”.

Awal-awal sma dulu, semangat untuk belajar dan memahami sesuatu bergelora luar biasa. Seperti kebanyakan orang-orang muda itu kawan, kita selalu ingin berontak dan mendobrak. Waktu “muda” dulu kita ingin mengganti pusat tata surya, menggeser poros bumi, kita ingin mencairkan kutub, teriakan lantang kita seperti bisa menyapu bersih gurun sahara. Kita hijau, muda, bersemangat, lantang… dan tentunya juga “baru membaca satu buku”.

Dulu itu, penilaian kita yang maha hebat telah dengan sangat brilian menyalahkan semua pandangan yang berseberangan dengan kita. Hidup dimata kita adalah perputaran logika kita dan “buku” kita.

Seperti kecambah, setelah beroleh kesempatan untuk sejenak mengembangkan kita punya kehidupan, kita mulai melihat dunia semakin berwarna-warna, pelan-pelan betul kita mulai belajar satu hal, lalu belajar lagi lain hal.

Lama-lama “buku” yang kita baca mulai agak banyak. Hidup disini bagi kita adalah perputaran logika “buku” kita, dan “buku-buku lain” yang teman-teman kita baca.

Perlahan dunia sudah mulai tidak terlalu hitam putih. “Kenapa teman kita berbeda warna beda selera” sudah mulai bisa kita cari sela-selanya, tentu saja untuk kemudian kita kritik dengan bahasa yang luar biasa pintar, niat kita dulu itu mulia sekali kan kawan?? “untuk menyadarkan mereka yang belum mengangguk-angguk dengan buku kita”. Kita baca “buku” mereka dengan harap-harap cemas untuk mencari dimana kira-kira letak salahnya?

Padahal hidup kita ini kan sepertinya terlalu sayang jika kita tidak sebisa mungkin memulung kebijakan dari banyak orang. absorb what usefull and reject what is useless. Persis seperti kita pintar benar membedakan mana telur mana kotoran ayam, meski keluar dari tempat yang sama toh kita tidak pernah salah ambil atau kemudian menjadi beringas dan radikal menolak semua telur.

Dalam dunia yang berwarna ini, hidup kita adalah perputaran logika untuk belajar dari “buku” kita dan “buku” yang orang lain punya.

Sudah membaca ribuan “buku”??? Bukankah tiba2 orang lain “pintar” dan kita ini “bodoh”??