Archive for November 4th, 2008

arti

Suatu hari aku membeli sebuah buku lama, kumpulan tulisan soekarno. Buku itu sudah dekil sekali, kertasnya menguning dimakan hari-hari, jilidannya sudah terlepas-lepas, tenaganya cuma cukup menghimpun lembar kertas-kertas tua itu beberapa puluh tahun saja.

Hampir mustahil, menemukan buku itu di toko buku manapun di pulau jawa ini, memang itu buku langka.

Sebenarnya aku sama sekali bukan penggemar pak karno, tapi buku-buku tua selalu menarik minatku, apalagi buku itu ditulis dengan bahasa sastra lama yang indah dan konteks sejarah yang zaman perjuangan itu seperti membakar, setiap kali aku membaca, aku merasa lebih muda lima tahun.

Dari dulu, aku selalu berusaha mencari-cari mutiara kebaikan yang bisa kita ambil dari sesiapa saja. Buku tua itu, dalam salah satu halamannya, memuat surat-surat pak karno kepada para sahabatnya. Apa yang menarik dari sebuah surat? yang membuat surat itu menjadi begitu bernyawa adalah karna surat itu ditulis oleh beliau dalam masa tahanan, dari balik jeruji besi, dari balik tembok yang hampir satu meter tebalnya, penjara yang memasung seerat-eratnya kebebasan fisik siapa saja yang dipendam didalamnya.

dari kesendirian yang pahit, dibalik terpa siksa yang memalu dan mencincang itu, orang-orang besar tidak pernah terpasung pemikirannya. Soekarno, Hamka, Bukhari, dan banyak lagi orang-orang besar itu membuat kita malu dan mengutuk-ngutuk kelemahan jiwa kita sendiri. Mereka, sekali-kali tidak pernah berhenti memberi arti!!

Aku menunduk dan setengah mati beristighfar. Bukankah hal terhebat yang sampai saat ini kita lakukan adalah menjadi orang biasa saja???

Lama aku menerawang, itulah mengapa buku-buku tua memberi sentakan yang berbeda, seperti menembus dimensi ruang dimensi waktu, lalu kita bertemu dengan para bijak para cendikia, lalu mengangkat muka dan kepala saja malu tak alang kepalang rasanya.

Rasa malu dan terbakar hebat seperti inilah yang membuat aku bertekad, dalam kesendirian macam apapun juga, dalam belenggu setebal sekeras apa juga, aku akan tetap “menulis” dan menyampaikan sesuatu.

Itulah penyulut banyak sekali email yang kukirimkan pada teman-teman disaat-saat senggang, sekedar berbagi cerita dan kebijakan, yang dengan tulus aku tak hiraukan pesan itu mereka baca atau simpan.

Itulah penyulut puluhan sms yang begitu seringnya kukirimkan untuk kawan-kawan di sebrang.

Itulah penyulut artikel-artikel kecil tentang banyak kebijaksanaan yang kupulung dari orang-orang.

Itulah penyulut perbincangan senja hari di tepian pantai, menasehati dengan pelan kepada saudara-saudara kecilku, menyemangati dan menyadarkan mereka bahwa sekali saja kita berhenti memberi arti maka kita sama saja mati.

Jikalah kapasitas orang macam kita ini tidak bisa se-menyengat surya untuk mengobarkan gelora banyak jiwa, maka cukuplah kita jadi perantara, mengajak teman dan saudara untuk sama-sama memulung kebijakan dari banyak manusia.

Sebelum waktunya kita nanti pergi, setidaknya biar berarti walau cuma sekali.

tak luar biasa tak apa

what will you do, if your best isnt good enough?

Aku sering sekali terhenyak waktu tersadar bahwa sebegitu banyaknya apa-apa yang sekuat tenaga kita lakukan ternyata tidak cukup bagus untuk dibilang luar biasa.
Kita berjuang mati-matian menggapai sesuatu, ternyata tidak tergapai.
Mati-matian juga kita mencegah sesuatu nyatanya tidak tercegah.

our best, sometimes isnt good enough.

Seperti konser musik, mati-matian kita memainkan sebuah simfoni, nyatanya orang tidak bertepuk tangan.

Kita sudah tegar memang, meski sedih itu mengalir sendiri bak peluh, tapi kita sudah tegar memang, kita sudah bertahan memang.

**************

Dulu sekali, pernah suatu ketika kita diajarkan dengan tenang, bahwa semakin ikhlas kita punya niat semakin enak kita berbuat, semakin benar kita berencana semakin mungkin kerja kita terlaksana sempurna. Semakin pasrah kita, semakin bisa kita menerima ending episode macam apa juga.

Lalu mulai kapan kita tiba-tiba lupa?
seketika ingat maka buru-buru kita harus berdoa, aminkan ini hai teman! “Tuhan…..bimbing kami pelan-pelan”.

biar khidmat kita bernyanyi, orang tak tepuk tangan, tak mengapa!
biar kuat kita mendaki, puncak belum juga sampai, tak apa!
biar dalam kita menyelam, dasar belum juga nampak, tak apa!

peluh hari-hari kita adalah untuk berbuat yang paling baik yang kita bisa, untuk jadi lebih baik tiap masanya.

meski “terbaik” kita tak cukup luar biasa, tak apa!!!!