warisan
Aku sudah bisa membaca………..
Adalah Kakek, orang yang dengan sabar mengajarkan aku mengenal huruf demi huruf, membunyikan konsonan dan vokal, merangkai kata dan kalimat, terus begitu hingga kakek meninggal saat aku kelas 3 SD.
Tidak banyak warisan yang kakek tinggalkan, aku tidak ingat lagi dimana-mana saja barang-barang peninggalan beliau, satu-satunya benda yang aku tahu adalah sebuah buku tua.
Buku dengan ejaan melayu lama itu menjadi barang bersejarah buatku, itu adalah sebuah buku tanya jawab agama, bukan buku luar biasa.
Aku terus membaca buku itu lembar demi lembar, bahasan demi bahasan. Sampai aku sangat yakin, jika suatu ketika seseorang bertanya padaku, buku apa yang paling berpengaruh bagi kehidupanku, aku akan menjawab lantang dan cepat “buku tanya jawab agama, buku kuno warisan kakekku”.
Lembar-lembar buku tua itu mengajariku bagaimana menganalisa suatu masalah, bagaimana membandingkan banyak ragam pendapat, bagaimana memahami kenapa para bijak cendikia itu menghukumi suatu masalah dengan begini dengan begitu, akhirnya buku itu mengajariku bagaimana berpendirian ditengah gelombang perbedaan penafsiran banyak kepala manusia.
Tak putus-putus aku memikirkan betapa warisan itu telah mempengaruhi sepanjang ini perjalanan hidupku.
Jika suatu nanti aku telah menjadi kakek-kakek, akan aku ingat betul untuk meninggalkan sebuah buku berharga untuk anak cucuku nanti, tapi sebelum itu aku akan mengajarinya mengenal huruf dan angka, mengeja kata dan kata.
Jika cucu kita sudah bisa membaca sejak masih belia, dan dilahapnya pula buku tua peninggalan kita kata demi kata, maka semoga pahalanya mengalir deras sampai ke langit dan ujung-ujungnya, menerangi tempat pembaringan kita dengan temaram yang indah tak alang kepalang.
