buku


Sambil duduk-duduk dalam sebuah senja yang santai, melepas pandang sejauh ufuk-ufukyang menyemburat jingga, aku berkelana jauh ke saat-saat dimana aku masih sangat sangat “muda”.

Awal-awal sma dulu, semangat untuk belajar dan memahami sesuatu bergelora luar biasa. Seperti kebanyakan orang-orang muda itu kawan, kita selalu ingin berontak dan mendobrak. Waktu “muda” dulu kita ingin mengganti pusat tata surya, menggeser poros bumi, kita ingin mencairkan kutub, teriakan lantang kita seperti bisa menyapu bersih gurun sahara. Kita hijau, muda, bersemangat, lantang… dan tentunya juga “baru membaca satu buku”.

Dulu itu, penilaian kita yang maha hebat telah dengan sangat brilian menyalahkan semua pandangan yang berseberangan dengan kita. Hidup dimata kita adalah perputaran logika kita dan “buku” kita.

Seperti kecambah, setelah beroleh kesempatan untuk sejenak mengembangkan kita punya kehidupan, kita mulai melihat dunia semakin berwarna-warna, pelan-pelan betul kita mulai belajar satu hal, lalu belajar lagi lain hal.

Lama-lama “buku” yang kita baca mulai agak banyak. Hidup disini bagi kita adalah perputaran logika “buku” kita, dan “buku-buku lain” yang teman-teman kita baca.

Perlahan dunia sudah mulai tidak terlalu hitam putih. “Kenapa teman kita berbeda warna beda selera” sudah mulai bisa kita cari sela-selanya, tentu saja untuk kemudian kita kritik dengan bahasa yang luar biasa pintar, niat kita dulu itu mulia sekali kan kawan?? “untuk menyadarkan mereka yang belum mengangguk-angguk dengan buku kita”. Kita baca “buku” mereka dengan harap-harap cemas untuk mencari dimana kira-kira letak salahnya?

Padahal hidup kita ini kan sepertinya terlalu sayang jika kita tidak sebisa mungkin memulung kebijakan dari banyak orang. absorb what usefull and reject what is useless. Persis seperti kita pintar benar membedakan mana telur mana kotoran ayam, meski keluar dari tempat yang sama toh kita tidak pernah salah ambil atau kemudian menjadi beringas dan radikal menolak semua telur.

Dalam dunia yang berwarna ini, hidup kita adalah perputaran logika untuk belajar dari “buku” kita dan “buku” yang orang lain punya.

Sudah membaca ribuan “buku”??? Bukankah tiba2 orang lain “pintar” dan kita ini “bodoh”??

ceritra

 

 

Old_book_6_1

 

Suatu pagi yang berkabut, aku menulis sebuah cerita nostalgi dengan ekstase perjuangan yang meluap-luap.

Bismillahirrahmanirrahim.

Ayahku
sering sekali bercerita dengan heroik, kepada kami-kami ini, anaknya,
tentang bagaimana dulu beliau berjuang setengah mati untuk hidupnya,
untuk sekolahnya, untuk masa depannya.

Cerita-cerita
semacam itu selalu menyulut, sehingga kami-kami ini seperti tertantang
untuk bisa ikut tegar dan bersemangat menghadapi perjuangan panjang
yang berkelok yang mendaki.

Sebegitu
seringnya ayah mengulang-ulang cerita itu hingga sebagian aku sudah
hafal bagaimana mulanya bagaimana akhirnya, tapi aku -menunaikan tugas sebagai anak yang menghargai orang tua
- tetap dalam pose mendengarkan yang hikmat sembari berkhayal, dengan
khusyuk aku telah menyiapkan cerita penyemangat yang nanti akan
kudongengkan kepada anak-anakku.

 

Mungkin begini aku akan bercerita.

 

Nak, dengarlah petuah ayah dan Ibumu,

janganlah
pernah mengeluh dalam menjalani cerita panjang hidupmu,lalui semua
jalan mulus yang kami pernah tempuh, hindari setiap yang membuat kami
terjerembab.

 

Setiap kesulitan yang kamu hadapi yakinlah bahwa akan ada kemudahan yang mengapitnya.

Setiap
kesendirian yang kamu hadapi yakinlah Ayah dan Ibumu adalah orang yang
ikut menghabiskan malam-malamnya untuk mendoakan kebaikan kepadamu
sebanyak banyak yang kami bisa pinta.

 

Sebagai yang tertua maka tugasmulah melambungkan adik-adikmu menjadi manusia-manusia luar biasa.

Sebagai
yang termuda maka tugasmulah untuk belajar banyak dari cerita saudara
tua, lalu berterimakasih yang dalam untuk setiap cinta yang tersurat
atau terpendam.

 

Sebisa mungkin kami berharap jalan kalian lurus dan mulus, maka setiap bimbingan dan petuah kami anggaplah surat-surat cinta.

Setiap
yang berkenan di hati maka laksanakan dengan suka ria,setiap yang
bertentang dihati simpanlah barang sementara untuk kau buka nanti
rahasianya seiring usiamu yang berbilang yang bertambah.

 

Jadikan kami teman yang kalian percaya untuk setiap rahasia. Percayai kami sepenuhnya untuk setiap cerita-cerita.

 

Suatu ketika nanti saat kalian sudah harus menempuh kehidupan kalian sendiri, sempatkan waktu untuk menjenguk dan bercerita.

Nanti saat kami sudah renta cukuplah kami bahagia dengan mendengar bahwa kalian sudah berkelana separuh dunia.

Berkembang lebih besar dari kami.

Tumbuh lebih tinggi dari kami.

 

Pilihlah pasangan yang luar biasa, nak.

Yang mengamini setiap doa-doa kebaikan yang kalian kerjakan.

Yang beristighfar atas setiap khilaf-khilaf terpelesetmu dan selalu menyambut tanganmu untuk tidak terjerembab dalam.

Yang dalam setiap lelahnya dia tersenyum untuk menghiburmu.

Yang dalam setiap kesalnya dia diam untuk tidak berkata buruk.

Yang menemanimu dalam setiap pagi yang cerah bersinar dan tidak akan lari dalam setiap senja yang menjelang gelap.

 

(Si kecil tiba-tiba bertanya dengan lantang)

“oh…. Iya…. Ayah belum pernah bercerita bagaimana mulanya  ayah menemukan bunda??”

 

*****************

Benar juga… bagian itu, belum tahu aku bagaimana menulisnya!!

rush

Rush

one day, there’s a man who asked to God

“god, what surprise u most about human kind?” the man said

“when they were children, they get bored with childhood, they rush to grow up and then long to be children again” God answered.


Hari ini aku bongkar-bongkar kamar, ada tumpukan arsip surat-surat dari kawan-kawan lama. Nostalgi yang tenang dan damai.

Surat-surat dari kawan-kawan di sebrang
pulau, saat-saat mengenang persiapan SPMB kemaren. Tak disangka
ternyata itu sudah hampir lima tahun yang lalu, lebih bahkan.

Waktu seperti berlari dengan kecepatan
cahaya, siapa yang pernah mengukur waktu ya? kita ini setiap hari
selalu terhenyak dan tersadar, sedemikian panjang waktu yang sudah
terlewat dan kita ini baru sekarang-sekarang bisa mengenangnya dengan
penuh nostalgia, ternyata masa SMA dulu itu masa yang luar biasa
menyenangkan, masa dimana pikiran2 menerobos dan berloncatan ingin
tumbuh dan menjulang ke awan-awan cita-cita. Baru sekarang-sekarang
juga kita ini bisa menikmati bahwa waktu kuliah dulu itu ternyata kita
sudah melewatkan 4 tahun dengan agak cuma-cuma, seperti kurang
menggelegar gaung karya-karya kita, seperti kurang bertumpuk buku-buku
yang kita baca-baca, seperti kurang banyak teman-teman yang kita kenal,
hari-hari yang kita lewati dengan segala idealisme khas anak muda
itupun seperti kurang lama kurang warna.

Selalu saja, kita ini pintar benar dalam hal “terlambat menyadari bahwa sesuatu itu berharga“.
Setelah lewat masanya baru kita bisa rasa-rasa, bahwa dulu pas di tk
itu kita mungkin kurang banyak main loncat tali, atau masa sd itu
kenapa kita tidak ikut saja lomba baca puisi-nya???

We rush to grow up!! Selalu buru-buru
ingin melepas seragam putih biru kita dan selalu merasa putih abu-abu
itu luar biasa dan keren, lalu mencampakkan putih abu dengan tergesa
sambil melirik jas almamater yang bikin kita kelihatan gagah dan
wibawa, lalu menjalani perkuliahan dengan kebosanan yang sangat dan
berteriak ingin segera bertengger di perusahaan punya nama dan punya
harga.

Lalu kita ingin kembali setelah semuanya tidak bisa diputar ulang.

Point of no return!! We want to be children again?? apa bisa kita berlari lebih cepat dari waktu?

Terlalu panik dengan masa depan membuat kita tidak lagi ingat bahwa kita harus menikmati masa sekarang.

Dont be to hurry brother!! sister!!

Masa lalu adalah lembaran tempat kita
rekreasi dan mengulang sungging senyum, masa lalu adalah memori yang
tak mungkin kembali, seperti masa depan yang masih misteri dan belum
terjadi.

Hal yang sebisa mungkin kita nikmati adalah hari ini. so enjoy ur “today”, Today is a gift, that’s why we called it presents.

 

one day a man asked to God

“God, what surprise u most about human kind?”

God answered “by thinking anxiously about future, they live in such a life neither present nor future

mengheningkan cipta

Pengamen

Di sebuah persimpangan jalan di bandung, hampir persis di bawah fly
over pasupati, ada sebuah jam digital yang cukup besar. secara
periodik, selang waktu beberapa detik, jam itu berganti-gantian
menampilkan waktu dalam indonesia barat dan suhu cuaca pada waktu itu.
Setelah beberapa kali pengamatan, aku perhatikan rata-rata cuaca
bandung itu mulai dari 21 c hingga 30an c.

sepanas apa itu udara yang paling panas di bandung? Mungkin sepanas
udara dalam bus jurusan dipati ukur - leuwi panjang pada suatu siang
yang gerah 25 juli 2008. dibandingkan dengan suhu di jakarta, tentu
saja cuaca di bandung masih kalah pamor. Tapi untuk ukuran sebuah kota
yang sejuk, maka macet siang-siang, plus melihat deretan mobil yang
mengular sampai ke lampu merah di ujung sana itu, tentu saja tantangan
tersendiri.

lalu seperti biasanya, para pedagang asongan masuk dengan pede lalu
berorasi dengan lancar, inilah orator-orator yang dibesarkan oleh alam,
fikirku….. tentu saja dengan tidak begitu memperhatikan.

tak lama kemudian seorang pengamen dengan perawakan yang biasa masuk
juga ke dalam bus. aku masih dalam mode tidak memperhatikan, sampai
saat dia mendentingkan gitarnya pada tembang pertama.

Sebuah lagu lama yang ceria sekali. enak betul rasanya ditelinga.
kalaulah ada wisata kuliner musik jalanan, maka pengamen satu ini layak
didatangi pak bondan winarno dan diberikan stempel “maknyus”!!
sepertinya dia itu bernyanyi dari dalam hati betul! petikan gitarnya,
starting awal nada suaranya, khas timbre vokal yang berat itu mengalun
hati-hati dengan apik, tidak lebih, tidak kurang, terus melengking
dengan manis, dan fade out dalam sebuah fallseto yang cantik.
BRILLIAN!!!

Ah…. begini rupanya kalau apa-apa itu dikerjakan dengan hati!
sepertinya benar-benar membawa ceria. Kalau ini adalah orasi, maka
denting lagu nostalgi dia itu adalah orasi bung tomo yang menggelegar,
yang membakar bakul-bakul jamu dan tukang-tukang tahu untuk bangkit
bergerak, maju!!! lawan!!! rawe-rawe rantas, malang-malang putung!!!

-) memang hiperbolis, tapi betul memang itu yang terasa.

Kawan, aku jadi percaya sekali bahwa dalam kapasitas apapun kita ini
dipasrahkan peran, seandainya kita lakukan yang terbaik yang kita bisa,
maka itu akan berbekas di hati orang lain, atau setidaknya di hati kita
sendiri.

Dalam sebuah tulisan pada buku entah yang mana aku lupa, pernah kubaca: “jika
kamu hanyalah seorang penyapu jalan, maka jadilah penyapu jalan yang
baik, yang menyapu jalan dengan sepenuh jiwa, yang menghasilkan maha
karya jalan bersih luar biasa, karya agung senilai patung artistik
michael angelo. Hingga nanti saat kau telah tiada, akan banyak orang,
para malaikat, serta penghuni langit dan bumi akan mengheningkan cipta,
untuk mengenang bahwa disini pernah tinggal seorang penyapu jalan yang
legendaris”

Maka lewat tulisan ini, aku mengucapkan terimakasih yang dalam, dan
mengheningkan cipta sejenak, berterimakasih atas pengamen legendaris
yang menceriakan perjalanan dipati ukur- leuwi panjang, di suatu siang
yang panas terik dan menyengat, duapuluh lima juli yang lalu.

kita dikelilingi orang-orang besar (yang kesekian kalinya)

Surround

Hippocrates, beberapa ratus tahun yang lalu mengelompokkan watak manusia dalam empat tipe yang kawan2 pasti sudah paham betul.

Semisal seorang yang berjiwa kepemimpinan yang kuat dia namakan
sebagai tipe KOLERIS, atau pecinta seni yang perfeksionis kita sebut
sebagai MELANKOLIS, atau juga watak ceria SANGUINIS, atau lagi sang
PHLEGMATIS yang damai dan easy going. Kesemua sifat ini pastilah banyak
kita jumpa dalam hari-hari kita berinteraksi dengan teman-teman sebaya,
dengan adik-adik muda belia, atau dengan senior-senior paruh usia.

Kadang-kadang, kita bisa menjadi semacam psikolog, yang dengan
seenaknya gampang sekali mengelompokkan orang yang mana dalam kriteria
yang mana. Lantaran salah satu sifat diatas itu tadi mungkin terlampau
polos menyeruak di keseharian kenalan-kenalan kita itu, ah…. tak
dinyana, manusia yang selalu mendominasi itu, -teman kita itu-,
pastilah seorang KOLERIS sejati! atau juga semisal teman kita yang
selalu santai betul menghadapi semuanya, hampir-hampir seperti orang
tanpa ambisi, tak perlu lama, pastilah kita stempel PHLEGMATIS
besar-besar di keningnya.

Lalu aku berkelana ke masa-masa SMA dulu, teringat aku akan seorang
kawan yang sepertinya dilimpahi berkah dari langit. Nantinya para
psikolog harus membuat satu lagi klasifikasi untuk orang macam beliau
ini.

Bagaimana memberi nama seorang pemimpin besar yang bakatnya sudah
meluap-luap sejak kecil? pemimpin yang mengatur dengan memesona.
Perfeksionis yang santai dan berseni dalam semua-mua hidupnya.
Pembicara dan pendebat handal tak dinyana. Ekstrovert luar biasa untuk
menjadikan semua orang teman baiknya, disaat yang sama juga introvert
yang selalu berkontemplasi dan merenung sebelum segalanya.
Matematikawan yang pandai mendenting gitar. Agamis yang membumi. Orang
yang berorasi sehebat tulisannya. Orang yang diam sehebat berfikirnya.

Orang ini tipe macam apa?? pikirku.

Kalaulah setiap teman yang menginspirasi itu aku tuliskan dalam
selembar kertas, maka mungkin aku sudah menamatkan berpuluh-puluh judul
“kita dikelilingi orang-orang besar”.

Sedihnya aku, sering nian cerita orang-orang besar itu, -kawan2 yang menginspirasi kita itu-, tidaklah berakhir dengan kegemilangan yang “wah” semisal penaklukkan byzantium atau epik gajah mada.

Entah kenapa sejarah memainkan cerita klise yang paradoks.
Orang-orang dengan talenta besar haruslah diam dan mati sebelum
kecambahnya menjulang kekar sampai ke awan sampai keatasnya lagi! Teman
luar biasaku ini memainkan lakon anak brilian dari pojok pasar kumuh
yang harus mengajarkan lagi pada pembelajar-pembelajar hijau seperti
kita-kita tentang bagaimana itu harusnya bersabar, tepat seperti
bagaimana ia tersenyum waktu talenta sesamudera itu -mau dikata apa- haruslah padam seketika karna ekonomi keluarga.

Jikalah setiap teman-teman yang menginspirasi itu aku tuliskan dalam
selembar kertas, maka mungkin aku sudah menamatkan berpuluh-puluh judul
“kita dikelillingi orang-orang besar”. Untuk setiap teman-teman yang
tersenyum tegar menghadapi drama panjang pertarungan mimpi-mimpi besar
dan realita yang luar biasa tegas luar biasa keras.

HIPPOCRATES!! mereka itu tipe orang macam apa???

untuk teman-teman terbaik

Together

Bismillahirrahmanirrahim.

Dari sore yang menjelang malam.

Kutuliskan ini sebagai bentuk rasa syukur, untuk telah dianugerahkan teman terbaik seperti kalian.

Kebersamaan yang takkan pernah berkarat, biarpun jarak kita jauh,
biar kehidupan kita sudah sendiri-sendiri, biar cerita kita sudah beda
tema, biar lakon drama kita sudah beda naskah, biar kehidupan membawa
kita pergi ke takdir yang berbeda-beda.

Kutuliskan ini sebagai bentuk terima kasih.

Atas rasa terbakar dalam dada, saat menyaksikan teman-teman
terbaik terbang melesat ke awan-awan ilmu itu, melayang-layang di
atmosfer pembelajar sepanjang hayat itu, lalu aku terperangah dan
bangun, berjalan, berlari, sedikit melompat setinggi-tinggi yang aku
bisa capai. Meski belum sampai terbang, tapi sekedar bukti dan teriakan
kecil, kawan…. aku juga berjuang setengah mati sebisa-bisanya!

Kutuliskan ini seperti bentuk cerita, kisah yang bakal ku bagi semuanya.

Untuk yang terpisah jarak terpisah waktu. Bahwa dalam setiap jatuh,
setiap bangun, setiap sendiri, setiap duka, setiap suka ria, setiap
masa-masa yang aku lewati dalam cerita petualangan ala aku itu, aku
selalu mengingat kalian.

Untuk memulung semangat dari hari-hari yang dulu pernah kita lewati.

Untuk membuat nyala dari bara dalam hati, bahwa di ujung sana ada
teman-teman yang sama berjuang, sama bertahan dari ombang-ambing ujian
demi ujian, sama mendoakan dalam setiap ia punya kesempatan.

Kutuliskan ini sebagai bentuk doa.

Dari jarak yang membentang ini, semoga Dia menjadikan hati-hati kita berhimpun selama-lama masa.

Kutuliskan ini, dari sebuah sore yang menjelang malam

struggle

Struggle

Semua berawal dari acara tv pagi tadi. Ditampilkan disana suasana ceremonial
kelulusan sebuah sekolah tingkat sltp. Tentu saja suasana kelulusan
dari orang-orang biasa tidaklah akan terlampau menarik, maka agar lebih
punya rasa disorotlah oleh mereka suasana perayaan kelulusan para
selebritis.

Salah satu selebritis yang disorot adalah gita gutawa. Anak komponis
besar ini memang luar biasa. Dia merupakan peraih peringkat terbaik
untuk nilai ujian akhir di sekolahnya al azhar. Sepintas lalu saya
menilai anak ini, dia terkenal, penuh talenta, wajah rupawan, punya
harta, dan tentunya pintar. Perfect……..

Lalu ingatanku melayang-layang pada suatu percakapan di sore hari
dengan adik tertuaku. Dia ini adalah orang dengan tipikal rata-rata
saja, tipikal orang-orang kebanyakan. Berasal dari keluarga sederhana
saja (tentu saja sama denganku), tampang ngepas, tidak bisa juga
dibilang punya talent yang luar biasa, ah.. pendek kata benar-benar
tipikal orang biasa.  Aku ingat betul, bagaimana dia itu berjuang, desperately struggling
untuk meloloskan diri dari skala terendah nilai yang ditetapkan sebagai
standar untuk lulus atau tidak lulusnya seseorang dari ujian nasional.

Kemudian dia hijrah ke bandung dari rumah kami yang sederhana di
pojok kota bengkulu, bimbel di ganesha operation bandung, dan memulai
kembali perjuangan berat menempuh lika-liku ujian masuk perguruan
tinggi negri.

Suatu kali di ganesha operation, dia melihat seorang siswa yang
datang menggunakan mobil BMW mewah, berdandan mantap luar biasa,
mengalungkan handphone high tech di lehernya, sambil menenteng
buku-buku tebal persiapan snm-ptn. Sepintas lalu adikku ini ternyata
membatin sendiri, dia percaya sekali bahwa orang yang penuh dengan gaya
dan penampilan seperti ini pastilah “kosong”, begitu pikirnya.

Tak seperti yang dikira, suara batin selintas itu runtuh ambruk
suatu hari dalam sebuah  percakapan dengan seorang teman yang
memberitahukan kepadanya bahwa siswa yang dilihatnya tadi adalah siswa
dengan otak terencer dikelasnya. Lagi-lagi Perfect!

Tidak habis-habis pertanyaan adikku dalam perenungannya itu, lewat
matanya aku dengan lancang menerka-nerka “gerangan apa kiranya segala
kelebihan itu tumpah ruah di salah seorang manusia??”

Selalu begitu……… Hal yang paling sering membuat kita merenung
dalam-dalam adalah pencarian panjang akan diri kita sendiri. Monster
terbesar yang kita hadapi dalam lelakon “seribu satu malam” versi kita
masing-masing adalah nyata-nyata fikiran kita sendiri. Kita cemburu.
Kalut. Bingung. Gamang. Cemas. Dan lain-lain rupa.

Lalu aku tersenyum simpul saja, bagaimana caranya membangkitkan
semangat yang sayup-sayup tertidur, hanya dalam menit dalam detik,
bisakah??

Kedewasaanlah yang kuharap-harap akan datang seiring waktu hidupku
yang semakin lama semakin tua ini. Agar bisa menyemangati dengan sabar
sesabar-sabarnya, biar kena sekena-kenanya.

Dek, Cuma kebanggaan untuk terus melayang-layang di atas karpet
ujian demi ujian, untuk terus meloncat-loncat meniti kubah-kubah
kesempatan, dan berpegang erat agar tidak tergelincir dalam
resiko-resiko yang luar biasa curam
itulah yang membuat kita masih berasa sebagai manusia, yang punya nyawa punya harga.

Rekapitulasi perjuangan kita adalah dinilai dari seberapa tegarnya
kita untuk terus bertahan agar tetap muncul di setiap babak lakon
“seribu satu malam” kita ini. Dan dari setiap akhir cerita yang datang
entah dramatis entah tidak itu, kita lagi-lagi harus bersabar untuk
tertakdir menjadi ksatria gagah jumawa atau juga pribumi biasa-biasa
saja.

bahasa cinta saudara tua

Brotherhood

bismillahirrahmanirrahim.

lewat tulisan kadang-kadang ada hal yang bisa lebih mudah
dikeluarkan, semisal tembok-tembok tak kasat mata yang menghalangi
kata-kata untuk keluar dari kerongkongannku ini, tiba-tiba menjadi
luluh dan segampang gampangnya aku tembus lewat diksi-diksi yang
kurapal setengah seperti doa supaya sampai ke mata, telinga, dan hatimu
bahwa ini bahasa cinta dari seorang saudara tua.

maka itu cerita-cerita doa ini kulukiskan dengan pelan-pelan saja,
semoga bisa menjadi semacam pengikat, jalinan darah yang  merekatkan
kita lewat ibu lewat ayah itu semoga menjadi bertambah-tambah kokohnya.

umur kita terpaut beberapa tahun hanya, naif memang jika aku
menyebut-nyebut diri ini sebagai orang yang jauh lebih dewasa darimu,
maka itu aku hanya akan bertutur jujur mengenai hari-hari yang
dulu-dulu itu pernah aku lewati dengan bodoh, biar nantinya kau akan
bisa mengambil apa-apa yang sekira perlu untuk jadi pedoman,
menghindari apa-apa yang sekira rentan untuk dijadikan jalan.

Semata-mata karna hidup kita ini singkat, terlalu sedikit waktu
untuk kita belajar dari kesalahan kita sendiri, maka belajarlah dari
kesalahan orang lain!

Semata-mata karna hidup kita ini singkat, maka semoga kebodohanku
ini menjadi semacam pahala karna telah dipelajari detil-detilnya
olehmu, dan oleh siapa saja.

ah………. tiba-tiba aku merasa seperti tua dek,

maka lewat diam kadang-kadang ada hal yang bisa lebih mudah
dikeluarkan, semisal sumbat-sumbat tak kasat mata yang menghalangi
kata-kata untuk keluar dari penaku ini tiba-tiba menjadi luluh dan
segampang gampangnya aku tembus, lewat doa, supaya sampai ke mata,
telinga, dan hatimu bahwa ini cinta dari seorang saudara tua.

no turning back

Water_flow_close_zen_16x12
there comes a time in every journey,
when u realize there’s no turning back.

waktu liburan bulan ini, aku reuni dengan teman2 masa kuliah, dan
bercerita banyak tentang kehidupan baru yang kami “dapatkan” sekarang
ini.

“destiny men…. destiny……” selalu itu guyonan konyol yang kami kelakarkan setiap kali bertemu.

bagaimana tidak berteriak lantang “destiny… destiny…” kalau ternyata
orang yang dulu tidak pernah kami sangka2, orang yang selalu diluar
lingkaran kandidat pemegang ipk termaut, atau diluar lingkaran aktivis
kampus organisatoris yang selalu punya retorika menggelegar, juga
diluar lingkaran nama-nama yang akan mudah diingat karna dia orang yang
selalu vokal dan punya peran penting dalam kehidupan ke-kampusan kami
ini, ternyata digulirkan oleh takdir untuk menjadi the choosen, satu
dari sedikit orang yang terpilih untuk masuk sebuah perusahaan minyak
yang punya nama itu.

takdir berjalan dengan cara yang tidak diduga-duga…. terkadang itu
benar-benar menohok, dan membuat kami-kami ini kadang tersenyum, kadang
tersenyum sambil melongok, susah aku menggambarkan bagaimana kenampakan
orang yang tersenyum sembari mengerutkan kening dan berpikir “lha…. kok
si anu malah gini tapi si anu malah gitu??”

no turning back……
seorang teman ditakdirkan terdampar di halmahera….
yang lain di belantara aceh
ada yang di tengah rimba sulawesi
ada yang di hiruk pikuk jakarta
ada yang bolak-balik antar pulau,
ada yang meneruskan studi di sebrang lautan
ada yang masih berjibaku untuk lulus dari kampus
ada yang bentar lagi married

ada sisi-sisi dimana lembar kehidupanmu itu tidak selalu bisa kamu pastikan kemana arahnya…….

lalu kami-kami ini mencoba mengeja terbata-bata. Lalu bercerita lagi
dalam ketawa-ketiwi pelan sambil menyeruput teh seduh dari poci. Kita
ini kan manusia yang akan terus berjuang berbuat yang terbaik yang kita
bisa, tapi bagaimanapun juga, Dia yang maha segala maha.

dalam setiap perjalanan panjang kita, akan ada masanya dimana kita
tiba-tiba sadar bahwa kita sudah tidak mungkin surut ke belakang.
pilihan kita hanya tetap maju, atau hilang sirna dalam pencarian
panjang ini.

tapi setidaknya “sekali berarti, setelah itu mati”

puzzle dunia

puzzle

Dulu sekali, seorang kawan pernah berkirim surat padaku, dan bertanya “apakah wajar, dengan usia kita yang sudah sebegini, kita masih terus mencari jati diri?”.

Waktu itu, kutanggapi pertanyaan temanku itu dengan main-main saja. Tapi kok rasanya akhir-akhir ini aku jadi merenung sendiri dan berpikir bahwa memang pencarian panjang kita akan jatidiri adalah hal yang luarbiasa rumit.

Sampai sekarang, aku masih yakin benar bahwa pencarian jatidiri adalah proses panjang yang akan bergulir seiring waktu kehidupan kita yang terus menua.

Hidup ini, kan seperti ekspedisi mencari potongan puzzle kita yang terserak morak. Setelah separuh usia kita jalani ini, dengan susah sungguh sudah kita dapatkan keping-keping teka-teki kita masing-masing, lalu menyusunnya dan mengira-ngira gambarnya.

Sangat mungkin, di separuh sisa usia kita berikutnya, kita temukan lagi kepingan-kepingan lain, yang bisa jadi merubah total gambaran kita sebelumnya.

Jadi, kawan, aku sama sekali tidak pernah menganggap bahwa segala kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan kita yang terus mengalir itu, atau segala perenungan-perenungan panjang kita sebagai pertanda bahwa kita ini manusia gamang yang tidak punya jatidiri. Sama sekali tidak!!

Karna pencarian ini, kawan, akan terus berlangsung sepanjang usia kita, seiring nafas dan nadi yang semakin lamur.

Nantinya. Kita-kita ini yang akan resapi betul pepatah orang-orang tua dulu, bahwa “belajar itu sepanjang hayat”, katanya.

Sejatinya, bahwa satu-satunya hal yang tidak pernah berubah di muka dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Dan setiap mentari baru yang menyeruak dalam hari-hari kita esok, kita ingin seperti isaac newton. Tatkala ribuan orang melihat apel jatuh, hanya kita yang bertanya “mengapa??”.

Lalu kita dapat satu keping puzzle lagi hari ini, iya kan??

« Previous PageNext Page »